468x60 Ads

Minggu, 06 Maret 2011

Narasi VD FPG di Taman Budaya Kupang

Kerjasama FPG, AJI, IJTI, TIMEX, & AFSC
Malam pentas seni Valentine Day 2011 dengan tema Basodara Dong Mari Kitong Hidup Bae-Bae ini berlangsung dalam suasana penuh kasih sayang dan persaudaraan dimeriahkan 14 kelompok seni dan paguyuban yang ada di kota Kupang dengan tarian Jai,Kataga, pantomin,melodrama,group band,musikalisasi puisi, hip – hop, dance dan berbagai pertunjukan seni lainnya yang mewakili berbagai komunitas di Kota Kupang baik komunitas berbasis budaya, keagamaan, institusi atau lembaga maupun pendidikan.
Pembukaan acara yang berlangsung atas kerjasama beberapa lembaga di Kota Kupang ini berlangsung cukup meriah, sambutan spektakuler yang dibawakan oleh pembawa acara Siska Solokana mendapat atensi khusus dari hadirin yang memadati aula UPTD Taman Budaya Kupang, mengenakan pakaian “cosplay” atau dengan berkostum meniru karakter tokoh animasi jepang akatsuki dalam serial Naruto. Bukan tanpa alasan, Siska memakai pakaian “unik” ini sebuah pesan tentang perdamaian coba disampaikannya melalui kisah dari tokoh tersebut.
Sambutan yang pertama datang dari koordinator Flobamora Peace Generation Yanuar Arifin dengan cukup tegas Yanuar mengambil sebuah contoh sederhana tentang pluralisme yang kembali dipertanyakan oleh masyarakat, beliau mengambil analogi sederhana tentang taman bunga, apabila hanya ditanami oleh satu jenis bunga saja tentu akan menjadi monoton, tetapi bila terdapat berbagai jenis tanaman & bunga yang diatur apik dan menarik serta sepadan maka taman itu akan menjadi lebih indah, begitupun dengan kemajemukan dalam kebergaman bukanlah sebuah alasan untuk diseragamkan ataupun dipermasalahkan tetapi bagaimana itu diberdayakan menjadi suatu “keindahan”.
Sambutan yang kedua datang dari Ketua AJI Kota Kupang, Jemris Fointuna yang mengungkapkan, ini merupakan tema yang inspiratif mulai dari yang kecil menuju perdamaian yang besar, dan kita semua adalah agen perdamaian. Sambutan inspiratif tentang peran media dalam menularkan “virus” perdamaian bagi khalayak umum.
Mewakili pihak pemerintah hadir dalam kesempatan itu, Kepala Kesbang Linmas Provinsi NTT, Sisilia Sona yang mewakili Wakil Gubernur NTT, Ibu Sisilia Sona mengatakan, kiranya kebersamaan dan persaudaraan dapat terus dijalankan untuk lebih mengedepankan kepentingan bangsa, negara dari pada kepentingan pribadi.
Dalam acara tersebut dihadiri oleh Ketua AJI Kota Kupang,Jemris Fointuna, Ketua IJTI,Didimus Payongdore, Prof.Ron Jenkis dari Wesleyan University New York, pimpinan AFSC Indonesia, Jiway F.Tung, Staf AFSC, Silvester Ndaparoka,Evie Hapsari,dan Shinta.
Suasana mulai tampak meriah ketika Grup Ja”I kreasi Puella Agriculture menampilkan tarian Ja’I, tarian asli Kabupaten Nagekeo ini dikemas secara modern oleh empat orang penari ini. Grup yang pernah menjuarai lomba Ja’I kreatif antar Fakultas dan Universitas se- Kota Kupang ini digawangi oleh empat orang mahasiswi yang masih aktif kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang, Frinche, Priska, Yochi, & Lony begitu atraktif menghibur hadirin, gerakan lincah dengan irama musik khas tarian ja”I mulai mengajak para tamu & hadirin untuk setidaknya bertepuk tangan riuh bahkan tak segan ada yang berteriak histeris takkala empat dara ini mulai menari.
Upacara kenegaraan, sebuah lakon sederhana namun penuh kritikan jenaka yang coba dipentaskan oleh panitia, protokol mempersiapkan para hadirin seolah – olah aka nada sambutan resmi dari orang no.1 di Republik ini, begitu kedua pengawal mengambil posisi di depan panggung, hadirin yang kebingungan mulai bertanya – Tanya bahkan ada yang berpikir ini hanyalah sebuah guyonan belaka, memang taka berapa lama terdengar suara dari ruang control, suara tersebut tak lain merupakan suara darai Koreografer acara ini, Deki Seo, beliau mulai berpidato dengan sentilan – sentilan humor yang menggambarkan tentang keadaan para pemimpin kita tapi dikemas menarik dalam kritik- kritik social yang terkesan jenaka dengan sebuah pentup tentang salam cinta dan kasih.
Dalam acara ini terlibat pula anak – anak didik lapas yang dibawah arahan Deki Seo sebagai Koregrafer dan dibantu oleh rekan – rekan dari Teather Satu Kupang, mencoba menvisualkan sebuah adegan theatrical tentang kepiluan hati sepasang tua renta yang mencari anak mereka dalam sebuah kondisi dunia yang penuh dengan ancaman, terjadi pembunuhan, perkelahian, seolah – olah begitu mencekam. Iringan ketukan bambu seakan membukakan mata para hadirin tentang kamuflase kenyataan yang memang seperti terabaikan oleh mata kita setiap hari.
Berikutnya adalah penampilan dari grup Hip – Hop PMC, grup yang terdiri dari tiga orang mahasiswa yang berkuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Grup musik yang terbentuk sekitar dua tahun lalu ini cukup menarik perhatian dengan lagu hasil karya mereka sendiri yang berjudul “Suarakan Damai”. Hal yang menarik lagu ini dibuat hanya sekitar 3 minggu sebelum pentas seni digelar, pada waktu dihubungi mereka langsung berinisiatif menciptakan lagu dengan materi hasil diskusi bersama sekretaris panitia. Lagu yang mengangkat tentang pentingnya saling memahami tanpa mengutamakan egoistis, dikemas menarik oleh Raksa, Didon, & Exel dengan beberapa kata yang menggunakan diaelek serapan dari bahasa melayu Kupang.
Dance anak didik Lembaga Pemasyarakatan Anak Kupang, langsung menggebrak begitu aksi teatrikal berlalu, kolaborasi antara dua grup dance yaitu Lapas Anak Dance dan X- Lapas dance menghadirkan penampilan berkelas, bagaiman mereka berkolaborasi dalam memerankan sebuah lakon yang hanya berupa tarian modern, Charli Karimon yang juga pendiri Lapas anak dance tampil memukau dengan aksi dance yang menyerupai adegan sepasang kekasih yang tengah memadu kasih, teriakan histeris dari hadirin seakan menggema ketika sepasang sejoli itu menampilkan tarian enerjik, tak berselang lama sehabis aksi Cha begitu ia biasa disapa, muncul sepuluh dancer lainnya yang berkostum pink dan celana panjang putih mulai menggebrak panggung dengan aksi – aksi modern dance yang variatif. Sekitar sepuluh menit hadirin merasa terhibur dengan suguhan modern dance dari dua grup tadi. Kualitas mereka memang meninggalkan kepuasaan tersendiri bagi semua yang menyaksikan pada malam itu.
Berikutnya penampilan tarian Kataga, tarian perang asal kabupaten Sumba Tengah ini Secara harafiah pengertian KATAGA adalah berasal dari kata TAGA yang mendapat awalan KA yang artinya “Mari kita potong atau pancung”. Dalam arti yang lain KATAGA adalah memperhitungkan kekuatan lawan dan di mana letak-letak kelemahan lawan. Makanya gerakan-gerakan kaki dalam tarian ini sepertinya maju mundur pada awalnya. Konon dahulu kala di Anakalang, terjadi peristiwa perang antar kampung ataupun perang antara marga yang satu dengan marga yang lainnya, dan perang tersebut disebut dengan perang tanding. Dalam perang tanding biasanya ada pihak yang menang ataupun kalah. Tarian ini dibawakan dengan penuh semangat, delapan orang pria dengan menggunakan Katopu (parang atau pedang dalam bahasa Anakalang) dan Toda (tameng) menghentak dengan oleh paceliawoungu atau teriakan khas yang menjadi sumber motivasi dari kalangan perempuan dalam menyambut kemenangan. Tarian ini diiringi dengan gong dan Laba sejenis tambur dari kulit kerbau, para penari yang umumnya adalah mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang ini tergabung dalam sebuah OKP lokal asal Sumba Tengah yang bernama Kelompok Study Nurani – Kupang. Yanto, Yonas, Yos, Rani, Dedy, Rinto, Toni, dan Ande begitu emosional ketika menarikan tarian ini, dengan iringan musik dari alat musik tradisional yang semangat permainan parang dan lompatan kaki mereka seolah manggambarkan keperkasaan para petarung – petarung asal pulau sumba.
Kini giliran Lapas Anak Band menghentak panggung, Suasana kembali “memanas” ketika penampilan LAPAS Anak Band membawakan 2 tembang pop ber-genre beat, hentakan lagu yang cepat dan keras cukup membuat sebagian undangan turut berdendang bersama. Lagu berjudul “Kuinging Damai” yang diciptakan oleh sang vokalis Sukarno Usman Korebima mencuri perhatian hadirin, lirik lagu yang menggambarkan ungkapan hatinya sebagai anak didik di Lapas Anak Kupang dengan berbagai paradigm yang berkembang di masyarakat tentang dunia mereka, coba dijawabnya dengan kreatifitas Bonan begitu ia biasa disapa begitu menghayati setiap bait lagu tersebut, diringi tabuhan drum yang akseleratif dari Paul sang drummer, penampilan mereka selayaknya penampilan dari Band Profesional.
LAPAS Anak Band mulai terbentuk tahun 2009 ketika LP Anak Kupang mendapat bantuan peralatan band dari Departemen Hukum dan HAM pusat, kebetulan salah seorang personil yaitu Rony Wulanteri memang berlatar belakang anak band, sehingga dengan proses sharing maka terbentuklah grup band ini, manajernya juga masih Pak Jeffry, beliau menceritakan untuk LAPAS Anak Band memang masih baru jadi masih memerlukan latihana intensif agar bias semakin baik dari segi vocal dan penampilan panggung, sejauh ini LAPAS Anak Band yang terdiri dari Sukarno Usaman (Vocal), Rony Wulantery (gitar), Paulus Apunut (Drum), dan Gusti Menanu (Gitar) pernah diundang mengisi acara di restaurant Teluk Kupang yang diselenggarakan oleh TransNusa
Tarian Dana – Dana seakan melengkapi nuansa kemajemukan dalam keberagaman yang coba diangkat oleh panitia penyelenggara, enam orang pemudi dengan berjilbab dan berpakaian selayaknya remaja muslim membawakan tarian pergaulan muda mudi etnis Arab, keenam pemudi ini pernah bersekolah di Madrasah Alawiyah Negeri Kupang, kini sebagian besar dari mereka melanjutkan pendidikan di Universitas Muhamadiyah Kupang.
Acara berlanjut dengan musikalisasi puisi yang dipentaskan oleh PBS FKIP UNDANA Kupang, Torine yang membawakan puisi berjudul “Nilai Sebuah Kedamaian” ada sebuah bait yang menaraik dari puisi tersebut yang bertuliskan “Mengapa kita masih saja saling menbenci Padahal semua hal yang Tuhan menciptakan matahari, bulan dan bintang .Tidak berbeda pada orang yang berbeda. Betapa mahalnya nilai suatu kedamaian sehingga kita enggan membelinya dengan KASIH” . seperti sebuah teguran nyata yang menjadi esensi reflektif dari maksud penggalan puisi tersebut, sambil diiringi secara instrumental dengan petikan gitar akustik Ade Pati, tabuhan jimbe oleh Umbu Arto, dan tiupan recorder nan syahdu dari John Tubani. Penampilan apik dan memukau ditampilkan oleh empat anak muda ini.
Panggung kembali dimeriahkan oleh penampilan sebuah grup band, kali ini giliran SaveHand Band yang berlatar belakang mahasiswa Fakultas Pertanian UNDANA Kupang ini membawakan dua buah lagu, Grup band yang digawangi oleh Onche (vokalis), Dio (drummer), Ray (Gitar), dan Tio (Basist) ini membawakan lagu pertama berjudul “Sahabat” dari Grup Band Ungu, tapi penampilan mereka dengan lagu kedua berjudul “Peace” dari penyanyi Lobow, sangat memancing emosi hadirin, Onche sang vokalis berkali – kali mengajak hadirin turut bernyanyi sambil mengangkat dua buah jari tangan kanannya membentuk simbol perdamaian.
Sebuah parodi dari Forum Pemuda Kristen Antar Denominasi NTT turut memeriahkan pentas seni ini, lakon – lakon jenaka dengan aksi “dubbing” yang lucu cukup menghibur para hadirin. Cerita yang mengkisahkan tentang upaya sepasang kekasih yang ingin tetap bersama sampai meminta pertolongan dukun, tetapi akhirnya harus menghadapi rintangan dari pihak yang melarang tentang cinta mereka seakan menjadi sebuah sandiwara modern yang mengingatkan kita tentanga salah satu versi dari sejarah valentine day yang menceritakan tentang pelarangan pernikahan oleh Raja Romawi tetapi coba ditentang oleh seorang Pastor yang bernama Valentinus, hingga akhirnya ia harus mati akibat melawan perintah Raja demi tetap menikahkan pasangan – pasangan yang salaing mencintai.
Pada puncak acara menampilkan Lapas anak Band beserta semua pementas yang bersama – sama naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu berjudul “Anak – Anak Terang” lagu yang menginspirasi tentang bagaimana bertahan untuk tetap menyinari dalam cinta kasih di tengah dunia yang penuh dengan cobaan, rintangan, dan godaan. Akhir acara pun semakin berkesan dengan pembagian bingkisan valentine berupa kartu ucapan valentine dari anak – anak didik Lapas Anak Kupang kepada seluruh Undangan dan hadirin, kesan mendalam dan harapan kedepan digoreskan sebagai salam terindah buat semua yang berada di luar tembok Lapas, kesan ini juga menjadi sebuah pernyataan nurani bahwa mereka bukan orang jahat, mereka hanyalah anak – anak yang salah jalan, mereka juga punya cint dan kasih untuk dibagikan. Hal ini yang membimbing kita untuk kembali merefleksikan diri bahwa merekapun tanggungjawab kita.
" Diakhir Kegiatan ini Drs.Abu Salim Senin berterima kasih kepada AJI,IJTI,FPG dan AFSC yang telah peduli dan berbagi kasih dengan anak binaannya diharapkan bisa menumbuhkan semangat kepada anak-anak yang selama mendapat stikma dari keluarga dan lingkungan sebagai orang yang tak punya masa depan, namun hal ini salah karena dilembaga ini bayak anak dibina dengan berbagai kreatifitas sehingga berakhirnya masa tahanan akan menjadi manusia yang memiliki potensi untuk membangun Negara, Keluarga dan dirinya lewat berbagai karya nyata yang didapat selama dibina.

0 komentar:

Posting Komentar