468x60 Ads

Rabu, 05 Oktober 2011

TUGAS EKONOMI MANAJERIAL “ ANALISIS RESIKO”

Keputusan Yang Mengandung Resiko Dan Ketidakpastian
Apabila suatu perusahaan dalam situasi yang tidak menentu dan keputusan yang harus diambil berkaitan dengan aliran kas untuk masa yang akan datang maka diperlukan analisis present value (PV) dan analisis expented present value (EPV). Untuk membantu analisis multiple periode EPV digunakan pohon keputusan yang menyajikan konsekuensi biaya dan penerimaan setiap keputusan sehingga semua scenario dapat diperhitungkan dari hasil keputusan yang diambil. Perlu diperhatikan bahwa selalu ada resiko bagi setiap keputusan alternative dan juga cara pengukurannya. Dalam hal ini perlu adanya analisis resiko dalam proses pengambilan keputusan. Pohon Keputusan Dan Analisis EPV Analisis EPV diperlukan apabila keputusan yang dibuat mempunyai implikasi terhadap biaya dan penerimaan pada periode sekarang dan setidak-tidaknya satu periode yang akan datang. Analisis akan menjadi kompleks apabila juga mengandung distribusi probabilitas dari hasil setiap periode, sebaba probabilitas hasil periode kedua mempunyai joint probabilitas. Poho keputusan akan memberikan fasilitas untuk menganalisis EPV karena alat ini akan menyebarkan dari keputusan seperti cabang pohon, dan mempermudah memperhtungkan joint probabilitas dari keputusan yang telah diambil.
Pohon keputusan menunjukan hasil yang diharapkan pada tahun pertama dan kedua setelah keputusan dibuat. Pada table diatas harga mesin besar Rp. 100 juta dan harga mesin kecil Rp. 50 juta, untuk menentukan mesin mana yang akan dibeli maka manajer harus mengevaluasi EPV untuk setiap alternative . untuk menganalisis EPV perlu diketahui probabilitas setiap alternative, yaitu probabilitas bahwa permintaan pasar tinggi sebesar 0,6 dan terendah 0,4. Pada tahun kedua probabilitas tertinggi 0,7 dan terendah 0,3. Di yhitung pada table diatas: Analisis Resiko Keputusan Alternative Dengan mengetahui adanya tingkat resiko dari setiap keputusan alternative maka kita akan selalu dapat memperhitungkan resiko dari keputusan yang kita ambil. Tingkat resiko dan ketidakpastian Resiko untuk setiap keputusan tertentu diartikan sebagai sebaran hasil. Secara sederhana sebaran hasil dapat ditentukan dengan melihat hasil yang paling kecil hingga yang paling besar. Jika jarak antara nilai hasil yang paing kecil dengan yang paling besar cukup jauh maka hal itu memperlihatkan bahwa keputusan yang diambil mempuyai resiko tinggi. Untuk mengukur resiko dari keputusan alternative tersebut dilakukan dengan membandingkan sebaran hasil yang ungkin terjadi. Standar deviasi distribusi probabilitas Standar deviasi dari distribusi probabilitas adalah penyimpangan rata-rata dari semua hasil yang mungkin diharapkan. Deviasi dari nilai yang diharapkan dibobot dengan probabilitas terjadinya hasil terebut. Karena yang dicari adalah standar deviasi maka tanda negatif maupun positif diabaikan, oleh karena itu nilai yang kita cari adalah nilai absolutnya. Untuk menghindari plus dan minus, selisih penyimpangan tersebut dikuadratkan. Rumus yang digunakan adalah :
Dengan menggunakan rumus diatas maka sandar deviasi merupakan akar dari varian. Risk averson, risk preference, dan risk neutrality Risk aversion Risk averion merupakan ketidakpuasan psikis sebagai akibat adanya ketidakpastian, yang digambarkan dngan adanya sebaran hasil yang mungkin terjadi dpandang sebagai ketidaknyamanan. Risk averter, orang yang enggan terhadap resiko, karna resko adalah sesuatu yang tidak baik, yang merugikan dan tidak memuaskan. Untuk menggambarkan hubungan kombinasi antara resiko dan hasil yang diharapkan maka digunakan kurva indeferen untuk mengetahui tingkat kepuasan yang sama. Pada gambar diatas sumbu tegak mengambarkan EPV dan sumbu datar menggambarkan resiko. Pada kombinasi A, EPV sebesar E, dan resiko sebesar SDi. Diantara I, yang paling baik adalah I1 karena untuk memperoleh E maka resiko yang dihadapi adalah yang paling kecil yaitu SDi. Risk preference Seseorang yang tergolong risk preference menganggap bahwa resiko merupakan utility (kepuasan). Hal ini berbanding terbalik dengan risk averter yang menganggap bahwa resiko adalah disutilities. Oleh kerena itu, kemiringan kurva indeferen yang dihadapi mempunyai slope negative. Pada gambar tersebut bahwa risk preference bersedia mengorbankan EPV keuntungan untuk resiko yang tinggi. Risk neutrality Risk neutrality adalah seseorang yang merasa sama saja atau tidak merasa berbeda terhadap resiko, baik resiko merugikan maupun menguntungkan tanpa memeperhatikannya, sehingga kurva indeferenya adalah horizontal. Penyesuaian Resiko Dalam Pengambilan Keputusan Ada beberapa metode dalam membandingkan keptusan alternative yaitu sebagai berikut: Kriteria maksimum Kriteria ini digunakan untuk memilih alternative yang mengandung hasil maksimum. Kriteria ini juga mendasar pada hasil yang maksimum yang paling jekek, dengan kata lain Kriteria ini mencari nilai yang paling besar dari nilai yang paling kecil. Kriteria koefisien variasi Arti dari koefesien variasi adalah rasio standar deviasi dengan EPV. Rasio koefesien variasi distribusi probabilitas SD/ EPV menunjukan sejumlah rasio per rpiah hasil yang diharapkan. Pengambil keputusan yang tergolomg risk averter akan memilih keputusan alternative dengan koefisien alternative yang paling rendah. Kriteria EPV dengan discount rate yang berbeda Metode ini merupakan tingkat diskon yang tinggi untuk keputusan alternative yang tinggi. Opportunity discount rate diartikan sebagai tingkat bunga yang paling baik yang memberikan penerimaan dengan tingkat resiko yang sama. Kriteria ekuivalen tertentu Ekuivalen tertentu suatu keputusan alternative adalah sejumlah uang tertentu yang membuat manajer indeferen antara mengambil keputusan dan menerima sejumlah uang tertentu. Berdasarkan Kriteria ini maka manajer melakukan seleksi atas keputusan alternative yang memiliki ekuivalen tertentu yang paling tinggi. Untuk itu hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam memilih Kriteria tersebut yaitu : Frekuensi keputusan dengan tipe yang sama yang dihadapi Besarnya taruhan Perilaku pengambil keputusan Biaya Mencari Informasi Kekurangan informasi yang dihadapi perusahaan memnyebabkan keputusan alternative yang diambil menjadi tidak pasti. Kekurangan informasi dapat diantisipasi dengan mencari informasi dan hal tersenut memerlukan biaya serta waktu. `Nilai informasi merupakan perbedaan apa yang diperoleh dari adanya keputusan yang didasarkan pada informasi disbanding dengan keputusan sebelumnnya. Apabila biaya yang diperlukan untuk mencari informasi lebih besar dari nilai informasi maka pembuat keputusan akan menggunakan dasar informasi yang telah ada dan tidak mencari tambahan informasi. Evaluasi Tentang Keputusan Yang Telah Dibuat Kualitas keputusan tergantung pada 5 faktor sebagai berikut: Pengumpulan informasi yang tepat Ketepatan dan kecocokan data Apakah keputusan telah mempertimbangkan waktu Analisis sensitivitas yang merupakan pengkajian dari suatu keputusan untuk memperoleh tingkat ketidaktepatannya. Analisis Kredit Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih dahulu harus terpenuhinya Prinsip 6 C’s Analysis, yaitu sebagai berikut: 1. Character Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain: a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah; b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya; c. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur); d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah berada; e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi; f. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya. 2. Capital Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit. Modal sendiri juga diperlukan bank sebagai alat kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam menjalankan usahanya karena ikut menanngung resiko terhadap gagalnya usaha. Dalam praktik, kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan self-financing, yang sebaiknya jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank. 3. Capacity Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana calon nasabah mampu untuk mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu dari usaha yang diperolehnya. Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan berikut ini: a. Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu. b. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus c. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank. d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan. e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon nasabah mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan , administrasi dan keuangan, industrial relation sampai pada kemampuan merebut pasar. 4. Collateral Collateral adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya. Collateral tersebut harus dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban finansial nasabah kepada bank. Pada hakikatnya bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan tetapi juga collateral yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis. 5. Condition of Economy Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik , sosial, ekonomi , budaya yeng mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya memengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian mengenai hal-hal antara lain: a. Keadaan konjungtur b. Peraturan-peraturan pemerintah c. Situasi, politik dan perekonomian dunia d. Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran 6. Constraint Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata. Dari keenam prinsip diatas, yang paling perlu mendapatkan perhatian account officer adalah character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti. Dengan perkataan lain, permohonannya harus ditolak.

0 komentar:

Poskan Komentar