468x60 Ads

This is featured post 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Kamis, 26 Mei 2011

KETRAMPILAN MEMBUAT BUNGA DARI LONTAR

TUGAS
BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
KETRAMPILAN
MEMBUAT BUNGA DARI LONTAR
O
L
E
H

NAMA : CHRISTHOVORUSIA I. NABUASA
NIM : 0804022550
PRODI : SOSIAL EKONOMI
DOSEN PA : Ir. NIKOLAUS SERMAN MS.c

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011



Daun lontar yang mirip dengan janur kelapa ternyata bisa dikreasikan menjadi bunga-bunga yang cantik, ini caranya :

Alat-alat yang dibutuhkan:

1.Gunting

2soldir

3.Benang jahit

4.Lem putih

5.Lem lilin


6. Tangkai bisa menggunakan bambu yang dihaluskan,atau kawat,batang fitrit(rotan).


7. Hidrogen peroksida

Hidrogen peroksida (H2O2) adalah cairan bening , agak lebih kental daripada air, yang merupakan oksidator kuat. Sifat terakhir ini dimanfaatkan manusia sebagai bahan pemutih (bleach), disinfektan, oksidator, dan sebagai bahan bakar roket.
Hidrogen peroksida dijual bebas, dengan berbagai merek dagang dalam konsentrasi rendah (3-5%) sebagai pembersih luka atau sebagai pemutih gigi (pada konsentrasi terukur). Dalam konsentrasi agak tinggi (misalnya merek dagang Glyroxyl®) dijual sebagai pemutih pakaian dan disinfektan. Penggunaan hidrogen peroksida dalam kosmetika dan makanan tidak dibenarkan karena zat ini mudah bereaksi (oksidan kuat) dan korosif.
CARA MEMBUAT
1.siapkan daun lontar yang muda kemudian dikeringkan


2.setelah kering dipotong sesuai pola yang diinginkan(menjadi pola kelopak-kelopak bunga)

3.kelopak2 kemudian diputihkan menggunakan campuran air dengan peroksida.



4.setelah kelopak putih kemudian proses pewarnaan sesuai selera dengan cara dimasak dengan pewarna, lalu dikeringkan.

5.setelah kering kelopak2 tersebut siap untuk dirangkai menjadi bunga.

6.kreasikan rangkaian kelopak sesuai dengan selera anda.


selamat mencoba..

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN ”Tikar Sebagai Salah Satu Hasil Kerajinan Dari Tanaman Lontar”

TUGAS
BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
”Tikar Sebagai Salah Satu Hasil Kerajinan Dari Tanaman Lontar”


OLEH :
NAMA : RENALDI ALU
NIM
JURUSAN :
: 0804022590
SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
SEMESTER : VI (ENAM)
DOSEN PENGASUH : Ir. IDA NURWIANA, M.Si



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011
Pohon Siwalan (Lontar)
Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi salah satu flora identitas provinsi Nusa Tenggara Timur. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak dan cuka ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah).
Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm. Buah Lontar (Siwalan) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras.


Pohon Siwalan atau Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), duntal (Saksak), juntal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba) dan tuak (Timor). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm.
Pohon Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Pohon ini dapat dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Pohon Siwalan atau Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup 80 sampai 100 tahun lebih.
Klasifikasi Ilmiah :
Kerajaan : Plantae;
Divisi : Angiospermae;
Kelas : Monocotyledoneae;
Ordo : Arecales;
Famili : Arecaceae (sinonim: Palmae);
Genus : Borassus;
Spesies : Borassus flabellifer.

Kandungan Kimia Lontar :
Nira mengandung 17-2011/o bahan kering, pH 6,7-6,9. Setiap liter mengandung protein dan asam amino (360 mg N), sukrosa 13-18%, P. 110 mg, K 1900 mg, Ca 60 mg, Mg 3 0 mg, vitamin B 3,9 TU vitamin C 132 mg, dan abu 4-5 g. Buah segar beratnya sekitar 2790 g (100%) terdiri atas kelopak bunga 175 g (6,3%), sabut 120 g (4,3%), tempurung 66 g (2,4%), daging buah 1425 g (51,0%) dan 3 buah biji beratnya 1004 g (36,0%).

Hama dan Penyakit :
Hama yang banyak menyerang lontar adalah kumbang Orycctes dan Rhynchophorus. Penyakit yang paling berbahaya adalah busuk upih dari jamur Phytophthora palmifora. Gejalanya bercak-bercak pada belaian daun yang menjalar sampai ke tunas. Kemudian tunas akar membusuk. Pohon yang terserang harus segera dimusnahkan dan dibakar untuk menghindari penularan pada pohon yang lainnya.

Ekologi Tanaman Lontar :
Beradaptasi di daerah kering, curah hujan 500-900 mm per tahun, juga tumbuh di daerah dengan curah hujan per tahun sampai 5000 mm. Tumbuh liar di tanah berpasir, juga tanah yang kaya bahan organic.



Pemanfaatan Pohon Siwalan

Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan. Air Sedapan (Nira) bisa dibuat menjadi alkohol medick, bio etanol, kecap asin & manis, gula batu, gula merah, cuka, dlll. Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol dan juga sebagai bumbu masak yaitu cuka.

Buahnya, terutama yang muda, banyak dikonsumsi. Biji Lontar yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah saboa” (Timor). Biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan atau es campur. Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran penganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.
Daun Lontar (Borassus flabellifer) di Nusa Tenggara Timur digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan atau souvenir seperti tikar, topi (ti’ilangga dari daerah rote), aneka keranjang, tenunan untuk pakaian, lintingan rokok, sarung pisau atau parang, haik (alat timba atau wadah tuak manis), tempat sirih, sandal tradisional, kipas api tungku, sasando yaitu alat musik tradisional dari Rote dan atap rumah Tangkai dan pelepah pohon Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sumba, Sabu dan Rote ptovinsi Nusa Tenggara Timur untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.

KERAJINAN TIKAR DARI DAUN LONTAR
Di tempat ‘Kerajinan Sasando Dalek Esa’ (Jalan Timor Raya Kilometer 8 No.5 Oesapa, Kupang- NTT), daun lontar yag sudah kering selama sebulan, dianyam menjadi tikar, dianyam dua lapis dan bagian ujungnya dilipat membentuk segitiga dan membentuk sisi tikar. Kemudian setelah dianyam, dirapikan ujung-ujung daun lontar yang masih tersisa dengan menggunakan pisau lalu dijemur. Tikar digunakan untuk alas tidur sedangkan tikar besar digunakan untuk menjemur padi, jagung, dll. Selain untuk tempat tidur dan alas jemuran, juga digunakan untuk alas duduk bagi tamu-tamu yang sangat dihormati ketika acara-acara adat. Karena bahan baku daun lontar untuk tikar makin mahal, harga jual tikar terus naik yang saat ini Rp 20.000 – Rp. 25.000 per pcs ukuran 1,5 m sampai 2 meter. Bahan utama tikar yaitu daun lontar dibeli oleh pengrajin dari Lasiana dengan harga Rp. 5000/ polok. Hal ini mengingat daun lontar di sekitar tempat kerajinan ini sudah makin langka karena ditebang karena rusak ataupun untuk dijadikan lahan proyek pembangunan.


Gambar – gambar proses pembuatan Tikar bentuk mini (ukuran kecil)di Rumah Kerajinan Dalek Esa Kota Kupang :

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN - ATAP LONTAR

OLEH :

NAMA : PRISCHA J. LULAN
NIM : 0804022587
JUR./ PRODI : SOSEKTAN/ AGRIBISNIS

SEMESTER : VI (ENAM)
DOSEN WALI : DRA. S. PUDJIASTUTI, MM


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011

POHON LONTAR DAN MANFAATNYA
“Daun Lontar sebagai Atap Rumah”

Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm dan Batangnya seperti batang pohon kelapa atau bahkan lebih besar lagi. Perawakan batangnya lebih halus dan berwarna agak kehitam-hitaman. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm selain daunnya berbentuk seperti kipas yang bundar. Tepinya banyak mempunyai lekukan yang lancip. Daun-daun tuanya tidak segera luruh tetapi tetap melekat diujung batang, sehingga tajuk pohonnya menjadi bundar. Perbungaannya berbentuk tandan. Perbungaan jantan dan betinanya masing-masing terletak pada pohon yang berlainan.. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.
Buah Lontar besar, bulat, banyak bersabut, berair dan berbiji tiga bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras.
Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (Saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba) dan tua (Timor). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm
Pohon Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Pohon ini dapat dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Pohon Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup hingga 100 tahun lebih.
Banyak manfaat yang kita dapat dari pohon lontar selain menghasilkan gula nira, dan sirup lontar, batangnya dapat dijadikan bahan bangunan dan daunya dapat dijadikan bahan untuk produk kerajinan anyaman seperti bakul, tikar, rumbia atap dan rumbia dinding. Jenis produk yang dihasilkan masih sangat sederhana dan terbatas. Produk yang selama ini dihasilkan dengan bahan baku daun lontar adalah aneka bakul sayur, bakul padi, tikar, nampan, dan rumbia atap.
Berikut ini salah satu manfaat dari daun lontar yaitu sebagai atap rumah. Dapat dilihata pada Gambar 1.


Gambar 1.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan atap rumah adalah daun lontar, lidi (yang merupakan helaian dari tulang daun lontar), kayu (sebagai rangka dalam dan penyanggah daun lontar). Peralatan yang digunakan untuk membuat produk ini adalah tali rafia, gunting, pisau, dan kapak.

Metode
Metode Tindakan diterapkan dalam pembuatan atap rumah dari bahan baku daun lontar ini adalah Pembuatan rumah dari atap daun lontar diawali dengan membentuk rangka rumah dari kayu dengan model melingkar dan kerucut keatas, memetik daun lontar yang sudah tua biasanya daun lontar tersebut berwarna hijau kekuning-kuningan sehingga lebih tahan lama dan efisiensi dalam penggunaan daun, kemudian daun tersebut disusun melingkar dari bawah sampai keatas sesuai dengan pola bentuk rumah yang telah dibentuk.

Prinsip kerja dan pembuatan atap rumah berbahan baku daun lontar ini dapat dijelaskan sebegai berikut:
1. Pembuatan (desain) model
Pelaksanaan pembuatan atap rumah dengan bahan baku daun lontar diawali dengan mendesain model bentuk rumah dengan kayu sebagai penyanggah daun lontar. Pada tahap ini, diawali dengan kayu tengah sebagai penyanggah utama. Kayu tengah tersebut memilki ukuran lebih besar dari kayu penyanggah lainnya. Kemudian kayu-kayu yang lainnya disusun melingkar dan bertingkat-tingkat. Untuk menghubungkan kayu yang satu dengan kayu yang lainnya digunakan tali raffia. Berikut ini dapat dilihat pada Gambar 2. Rangka dalam pembuatan rumah beratapkan daun lontar. (Sumber gambar diambil Dikecamatan Maulafa)




Gambar 2. Rangka kayu pembuatan rumah beratapkan daun lontar.

2. Teknik Pembuatan lidi dari helaian daun lontar
Berasal dari helai-helai daun yang dengan lebar helai yang seragam ukurannya. Setiap pasang helai daun lontar mempunyai tulang daun (satu tulang daun mempunyai dua lembar helai daun). Setelah dipisahkan dari tangkai daun (pelepah) dengan cara dipotong maka terlebih dahulu tulang-tulang daun dipisahkan dari daunnya. Helai helai daun ini kemudian dijemur kurang lebih 2 jam. dalam cuaca panas matahari normal dengan suhu sekitar 36 °C - sampai 40 °C .
Langkah selanjutnya adalah pembentukan helai-helai daun menggunakan pisau menjadi helai-helai yang mempunyai lebar yang sama. Pembentukan helai ini membutuhkan keterampilan khusus agar lebar helai daun dari ujung ke ujung yang lain tetap sama dan seragam.




3. Teknik Pengambilan dan Penyusunan Daun Lontar
Teknik Pengambilan daun lontar (Gambar 3), diawali dengan daun lontar diambil dengan dipisahkan pelepahnya. Kemudian daun diturunkan dari pohon dengan cara daun dengan diikat pada leher atau ikat pinggang. Setelah sejumlah daun diambil dari pohon lontar kemudian sampai pada tahap daun lontar diikatkan pada rangka kayu yang telah ada. Daun lontar tersebut diikatkan dengan menggunakan lidi dari helaian daun lontar (Gambar 4) yang berasal dari helaian daun tersebut.




Daun Lontar (Gambar 3) Lidi Dari Helaian Daun Lontar (Gambar 4)

Setelah daun secara keseluruhan diikat dengan lidi dari helaian daun lontar pada rangka kayu tersebut maka rumah dari daun lontar (Gambar 5) tersebut telah jadi dan siap untuk digunakan.




Rumah dari Daun Lontar (Gambar 5)


BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN KERAJINAN DARI DAUN LONTAR “TEMPAT SIRIH”

NAMA : FRINCE M LAURENS
NIM/SEMESTER : 0804022562/VI
PRODI : AGRIBISNIS
DOSEN PA : Ir. S P N Nainiti, MSc. Agr


Pohon lontar (Borassus sundaicus ) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi salah satu flora identitas provinsi Nusa Tenggara Timur. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak dan cuka ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah) dan daunnya dijadikan berbagai macam kerajinan.
Siwalan atau Pohon Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Pohon ini dapat dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Pohon Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup 80 sampai 100 tahun lebih.
Beradaptasi di daerah kering, curah hujan 500-900 mm per tahun, juga tumbuh di daerah dengan curah hujan per tahun sampai 5000 mm. Tumbuh liar di tanah berpasir, juga tanah yang kaya bahan organic.
Daun Lontar (Borassus flabellifer) di Nusa Tenggara Timur digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan atau souvenir seperti tikar, topi (ti’ilangga dari daerah rote), aneka keranjang, tenunan untuk pakaian, lintingan rokok, sarung pisau atau parang, haik (alat timba atau wadah tuak manis), tempat sirih, sandal tradisional, kipas api tungku, sasando yaitu alat musik tradisional dari Rote dan atap rumah Tangkai dan pelepah pohon Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sumba, Sabu dan Rote ptovinsi Nusa Tenggara Timur untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.
Tempat sirih selalu digunakan oleh daerah-daerah di provinsi NTT, selain kegunaannya sekedar sebagai tempat menyimpan sirih, kapur dan pinang biasa juga dipakai oleh masyarakat daerah sebagai alat untuk menjamu tamu, peminangan, bahkan digunakan dalam kegiatan kesenian seperti menari. Pada tarian CERANA yang berasal dari daerah Rote, NTT menggunakan tempat sirih sebagai objek/, dimana trian tersebut untuk menyambut para tamu yang datang. Tempat sirih juga dapat menjadi identitas suatu daerah walau bentuknya sama pada semua daerah.
Kerajinan tempat siri di Kupang, NTT biasa dipamerkan pada suatu pameran atau workshop dan dapat sebagai cindera mata dan umumnya di Kupang dijual dengan harga Rp.25.000-Rp.35.000 dan dapat dijangkau oleh semua kalangan.
Cara Membuat Kerajinan “Tempat Sirih”
Umunya untuk membuat anyaman yang akan dibentuk menjadi tempat sirih akan menggunakan daun lontar yang masih muda agar kuat dan tahan lama dan daun yang dipilihpun yaitu daun yang tidak berlubang dan berwarna hijau merata agar terlihat indah saat dibentuk tempat sirih.
Alat dan Bahan:
1. Pisau
2. Parang
3. Daun lontar yang muda
4. Kesumba (warna sesuai selera)
Cara Membuat:
1. Daun muda yang diambil dibersihkan/ dihaluskan permukaannya
2. Daun dipotong dengan lebar 2cm
3. Daun dipisah dari yang akan di beri warna
4. Yang tidak diberi warna dicuci kemudian dijemur selama 3 jam dan jangan terlalu kering ( warnanya kuning pucat)
5. Daun yang akan diberi warna, dicelup pada kesumba semalam (warna sesuai selera) min. 3 warna kemudian dijemur selama 3jam.
6. Daun dianyam biasa umumnya dan menganyam selip untuk daun yang berwarna pada bagian tampak luar anyaman ( berbentuk segitiga, salib, kotak, dsb)
7. Tempat sirih dibentuk dua bagian ( satunya sebagai penyekat)

Budidaya tanaman tahunan - Produk Olahan Lontar Proses Produksi piring Lontar

TUGAS
BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
“Pemanfaatan Lidi Daun Lontar Menjadi Piring Rotan”
NAMA : ETMAR KUNE
NIM : 0804022559
PROGDI : SOSEK
DPA : HANS TELNONI, SE,MSi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011
PENDAHULUAN

Latar belakang
Pohon lontar selain menghasilkan nira n sirup lontar batangnya dapat digunakan untuk bahan bangunan dan daunnya dapat digunakan untuk kerajinan anyaman seperti tikar, bakul dan lain-lain adapun yang mengunakan bagian daun dari lontar yaitu lidi daun lontar untuk dibuat kerajinan tangan seperti salah satunya adalah piring rotan.
Pengembangan kerajinan anyaman di kalangan masyarakat sangat berpengaruh kepada tingkat perekonomian masyarakat yang mengusahakan kerajianan anyaman dari daun lontar sebagi pengrajin anyaman daun lontar maka itu penganekaragaman produk kerajinan anyaman dari daun llontar sangat dibutuhkan sehingga meningkatkan kreatifitas pengrajin anyaman daun lontar . Sebagian sumber daya manusia yang mengusahakan kerajinan ini adalah orang-orang yang memiliki pendidikan dasar sehingga pengembangan pasar yang ada masih dalam ruang lintgkup masyarakat tempat pangrajin mengusahakan kerajinan anyaman tersebut.
Pemasaran yang dimiliki cukup baik dikarenakan kebutuhan pasar yang besar sehingga produk kerajinan anyaman diminati baik kalangan bawah, menengah, maupun kalangan atas. Dikarenakan cukup sederhana tapi memiliki nilai yang khas dan memiliki keunikan tersendiri bagi pembeli. Pengunaan nya cukup sederhana dan tidak menulitkan bagi pembeli untuk mengunakan produk anyaman tersebut. Salah satu dari produk kerajinan anyaman adalah piting lidi atau yang sering kita sebut dengan piring rotan yang memiliki nilai jual yang cukup di pasar dikarenakan cukup sederhana dan praktis digunakan serta tidak memakan biaya yang besar dan dapat digunakan berulang-ulang kali.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan tulisan ini agar pembaca lebih mengetahui kegunaan dari pohon lontar sebagi penghasil kerajinan tangan agar kedepannya pemeliharaan pohon lontar lebih intensif sehingga kita sebagai penerus bangsa lebih menjaga kelestarian dari tanaman lontar agar anak cucu kita bukan hanya tahu tentang apa itu tanaman lontar tetapi juga lebih mengerti dan biasa melihat seperti apa itu tanaman lontar.

Manfaat
Manfaat yang dapat kita ambil dari penulisan tentang kerajianan anyaman dari bagian lidi daun lontar yaitu agar bisa bermanfaat bagi pembaca sehingga pembaca sendiri lebih tahu tentang apa saja yang dihasilkan dari lidi daun lontar salah satunya adalah piring rotan dan pengunaan piring rotan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemanfaatan pohon lontar sekarang ini merupakan salah satu bagian dari masyarakat. bagian-bagian dari pohon lontar seperti pada bagian batang yaitu menjadi bahan banguanan, daun lontar menjadi berbagai anyaman yang menjadi pendapatan bagi pengrajin pohon lontar.
Banyak pengrajin pohon lontar yang ada di daerah NTT salah satunya adalah Rote kebanyanya orang Rote yang menghasilkan produk piring rotan sebagai produk sampingan sebagai tambahan uang bagi keluarga, disamping mengusahakan nira yang dijadikan sebagai gula air dan gula lempeng
Salah satu kerajinan anyaman dari lidi daun lontar adalah piring rotan atau dalam masyarakat Rote menyebutnya dengan nama “Pingga Loak” . Pingga loak ( piring rotan ) adalah piring yang terbuat dari lidi daun lontar/ daun kelapa, yang dianyam menyerupai piring makan dan diproses hingga halus. Penggunaan piring rotan sangat praktis karena hanya membutuhkan kertas minyak / daun pisang yang dipotong melingkar di atasnya. Dan apabila sudah selesai digunakan, hanya tinggal membuang kertas / daunnya saja. piring rotan bisa di simpan kembali, tidak pecah, awet, hemat, praktis penggunaannya, dan hemat tenaga karena tidak perlu dicuci setelah digunakan (cukup dilap saja). Pingga loak (piring rotan) sangat diminati oleh usaha restaurant, depot, Pesta Rakyat, dll. Dibawah ini adalah proses pembuatan piring rotan secara sederhana yang biasa dilakukan oleh masyarakat Rote.
Alat dan bahan :
1. Pisau
2. Tali
3. Lidi daun lontar yang masih mentah
Cara pembuatan :
1. Pertama-tama lidi daun lontar dipisahkan dari daun lontar dengan jumlah sesuai dengan ukuran dan desainnya, semakin besar dan panjang maka semakin besar piring yang dihasilkan. Pada desain dibawah ini di perlukan 72 lidi daun lontar.


2. Dipisahkan menjadi 6 bagian.

3. Diikat dengan tali untuk dapat dipisahkan saat proses pengayaman.





4. Disilangkan lalu digabungkan 2 bagian yang berbeda mengunakan tali.

5. Dibuka ikatan satu-persatu untuk proses awal pengayaman

6. Dianyam dan diselipkan tali agar bisa memperkuat proses penganyaman selanjutnya.



7. Putaran anyaman sesuai dengan arah jarum jam, tapi itu tergantung dari desain anyaman yang diinginkan oleh pengrajin sendiri.

8. Hasil dari anyaman lidi daun lontar yaitu pingga loak (piring rotan)


Dalam proses pengayaman piring rotan ditekankan bahwa pembuatan piring rotan harus lidi daun lontar yang masih mentah agar saat proses pengayaman dapat berjalan dengan baik karna kalau mengunakan lidi daun luntar yang kering maka mudah patah dan hasilnyta tidak sesuai dengan yang diinginkan. Bayak sekali desain dari piring rotan tetapi semua itu tergantung dari pengrajin piring rotan yang mengkreasikan agar terlihat menarik dan dapat diminati oleh konsumen sendiri.




KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan diatas maka di simpulkan bahwa:
1. Piring rotan sangat diminati oleh konsumen sekarang ini karena praktis dan harganya mudah di jangkau.
2. Proses pembuatan dari piring rotan cukup sederhana tergantung dari pengrajin untuk mengkreasikan piring rotan agar tampak menarik di mata konsumen.
DAFTAR PUSTAKA

M.Gani kristanto, 1986, Pedoman Pembuatan Aneka Kerajinan Mengunakan Alat Alat Tangan, PIKA Semarang

Feny, Pengembangan Dan Jenis Produk Anyaman Daun Lontar Berpotensi Ekonomis, Politeknik Negeri Kupang

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN OLAHAN DARI DAUN LONTAR “ROKOK POLOK”

BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
OLAHAN DARI DAUN LONTAR
“ROKOK POLOK”



OLEH
DEDY N. OTTA
0804022554

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2011

PROSES PEMBUATAN ROKOK POLOK
Daun lontar yang digunakan dalam pengolahan barang kerajinan maupun lain-lain adalah daun lontar yang masih muda atau yang sering disebut polok. Sebelum diolah polok ini dijemur terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengurangi kadar air dalam daun. Penjemuran ini mebutuhkan waktu kurang lebih satu hari.
Proses pembuatan rokok polok ini tidaklah sulit karena alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana serta prosesnya tidak begitu rumit. Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan rokok polok yaitu :
1. Daun lontar muda / polok yang sudah dikeringkan
2. Tembakau
3. Air : bahan untuk melunakan kembali daun lontar yang sudah dikeringkan
4. Pisau : selain sebagai alat potong digunakan juga sebagai alat pengikis daun

Setelah alat dan bahan disiapkan, maka ada beberapa tahap / langkah-langkah dalam proses pembuatan rokok polok yaitu :
1. Pisahkan tulang daun dari daun lontar
2. Pengikisan daun :
Ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengikisan daun yaitu permukaan daun yang akan dikikis adalah permukaan yang teksturnya kasar. Tujuannya agar daun lontar menjadi lebih tipis.
3. Pemotongan daun :
Setelah tahap pengikisan dilakukan maka tahap yang berikut adalah memotong daun menjadi beberapa bagian dengan ukuran kira-kira 7 cm. dan sisahkan masing-masing potongan 1 cm daun sebagai alat pengikat rokok. Biasanya satu helai daun menghasilkan 5 potong.
4. Penggulungan dan Pengikatan rokok :
Daun yang sudah dipotong diisi dengan tembakau dan diatur sedemikian rupa kemudian digulung dan diikat menggunakan tali dari potongan daun yang tersisa berukuran 1 cm tadi. Kkemudian rokok siap untuk digunakan.






LAMPIRAN








Budidaya tanaman tahunan - Produk Olahan Lontar Proses Produksi gula Lempeng

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Clifford Geertz (1983:12-37) menyatakan bahwa sistem-sistem ekologi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua tipologi yang berbeda satu sama lain. Pertama,tipologi pertanian sawah yang terdapat di pulau-pulau Indonesia bagian dalam yang padat penduduknya. Kedua, tipologi pertanian ladang yang terdapat di Indonesia bagian luar, yang kurang padat penduduknya. Dari kedua sistemmenyatakan bahwa sistem-sistem ekologi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua tipologi yang berbeda satu sama lain. Pertama, tipologi pertanian sawah yang terdapat di pulau-pulau Indonesia bagian dalam yang padat penduduknya. Kedua, tipologi pertanian ladang yang terdapat di Indonesia bagian luar, yang kurang padat penduduknya. Dari kedua sistem ekologi tersebut dimungkinkan adanya berbagai tipologi, yang dibentuk berdasarkan gabungan dari keduanya. Akan tetapi menurut James Fox (1996: 33) terdapat sistem ekologi yang ketiga, yang peranannya semakin penting tetapi diabaikan dalam tipologi yang dibentuk oleh Clifford Geertz tersebut, yaitu sistem ekologi di pulau-pulau bagian luar Indonesia, terutama pada busur luar kepulauan di Nusa Tenggara Timur. Sistem ini bukan merupakan sistem pertanian yang lain, tetapi suatu kegiatan meramu, yaitu pemanfaatan pohon lontar (Borassus sundaicus Beck) yang sangat produktif.
Pohon Lontar adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus sundaicus Beck) menjadi salah satu flora identitas provinsi Nusa Tenggara Timur, hal ini didukung oleh lambang Kota Kupang( Ibu kota Provinsi NTT) yaitu Sasando, yang notabene merupakan produk kerajinan tangan olahan dari daun tanaman lontar serta Kabupaten Kupang yang mencantumkan gambar Pohon Lontar berdampingan dengan ternak sapi sebagai lambang administratif. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula lempeng (sejenis gula merah)
Pada kepulauan di busur luar Nusa Tenggara Timur, yakni di Pulau Sumba, Sawu, Raijua, Ndao, Rote, Semau dan Timor, terdapat banyak pohon lontar. Akan tetapi budidaya lontar secara intensif hanya dilakukan oleh penduduk Sawu dan Rote. Bagi masyarakat Sawu, pohon lontar merupakan sesuatu yang sangat berarti, karena selain dapat dijadikan sebagai bahan makanan pokok dalam kehidupannya, dapat pula dimanfaatkan untuk bahan kerajinan, bahan-bahan bangunan maupun untuk kelengkapan dalam upacara-upacara adat. Keadaan ini sangat berbeda dengan kondisi penduduk yang tinggal di pulau-pulau sekitarnya, seperti di Pulau Sumba maupun Pulau Timor. Penduduk dari kedua pulau tersebut hidup dengan mata pencaharian pokok dari perladangan. Perladangan yang dilakukan terutama adalah menanam jenis tanaman yang menghasilkan bahan pangan, seperti jagung, ubi kayu, canthel ataupun yang lainnya. Hal ini menjadi menarik guna melihat lebih jauh produk – produk olahan dari tanaman ini yang diharapkan dapat merubah cara pandang atau paradigm berpikir masyarakat tentang tanaman yang terkadang dianggap sebagai pengganggu.

1.2. Perumusan Masalah
Mendeskripsikan proses produksi dan keunggulan darai salah satu produk olahan nira lontar yaitu gula lempeng.

1.3. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca dapat mengetahui proses produksi gula lempeng serta keunggulan komparatif yang dimilikinya ,sedangkan kegunaan dari penyusunan makalah ini adalah guna melengkapi salah satu syarat perkuliahan Teknik Budidaya Tanaman Tahunan.

1.4. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini digunakan metode studi pustaka dengan mengambil data dari buku dan beberapa sumber dari internet serta observasi ke lokasi produksi pembuatan Gula Lempeng di kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima – Kota Kupang.


II. BIOLOGI TANAMAN LONTAR

2.1. Biologi Tanaman Lontar
2.1.1 Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan : Plantae;
Divisi : Angiospermae;
Kelas : Monocotyledoneae;
Ordo : Arecales;
Famili : Arecaceae (sinonim: Palmae);
Genus : Borassus.
Spesies : Borassus sundaicus Beck
Pohon Lontar merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.
Buah Lontar (Lontar) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras.




2.2 Pemanfaatan Lontar
Daun Lontar (Borassus sundaicus Beck) digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor.
Tangkai dan pelepah pohon Lontar (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.
Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan. Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol.







III. Produk Olahan Nira Lontar , Gula Lempeng

Gula lempeng (sejenis gula merah) merupakan produk olahan dari nira lontar yang paling akrab bagi masyarakat kota Kupang, kususnya etnis Sawu dan Rote. Menurut pengalaman dan kearifan lokal yang masih dianut oleh para penyadap nira, bulan Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.
Biasanya para pria bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, sedangkan wanita yang umumnya kalangan ibu – ibu rumah tangga bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka rata – rata dapat membuat minimal 150 lempengan gula.

Proses pembuatan Gula Lempeng Para pria biasanya bertugas menjadi pemanjat, dibutuhkan keterampilan khusus dalam memanjat batang tanaman lontar. Untuk memudahkan, biasanya pada lingkaran batang dibuat beberapa irisan yang diagonal pada sisi yang saling membelakangi, irisan ini akan berfungsi sebagai injakan atau tempat pijakan. Pemanjat juga mengguanakan tali yang diikatkan pada pinggang agar membantu menopang tubuh, karena ketinggian pohon lontar bias mencapai 20 – 30 m. mereka akan terus memanjat sampai ke pucuk, sambil menenteng Haik, semacam wadah penampung hasil kerajinan tangan dari daun tanaman lontar
Penyadap harus memilih pohon lontar dengan ciri-ciri tertentu sebelum melakukan penyadapan. Untuk pohon jantan dipilih yang mayangnya sudah berkembang sepenuhnya, semua tunas-tunasnya yang bercabang sudah tumbuh dan bunga-bunga kecil mulai
3.1.

tumbuh satu per satu. Sedangkan untuk pohon betina dipilih yang mayangnya belum tumbuh buah. Diperlukan banyak tenaga untuk menghancurkan dan meremas mayang betina. Oleh karena itu mereka cenderung menyadap lontar jantan, meskipun dikatakan bahwa lontar betina menghasilkan lebih banyak nira.
Setelah itu akan disaduh guna memisahkan air sadapan dengan kotoran – kotoran, sehingga air sadapan yang bersih yang akan diolah selanjutnya. Air sadapan nira lontar awalnya berwarna putih, bias langsung dikonsumsi sebagai minuman tradisional, di Kota Kupang banyak yang menjajahkan Tuak begitu nama minuman ini.
Wanita atau ibu rumah tangga bertugas mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat. Hal yang unik ketika memasak nira hasil sadapan, menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat, namun tungku ini sangatlah kokoh dapat menampun 2-3 priuk sekali memasak. Juga terbilang cukup efisien dalam pembagian panas karena terdapat rongga sehingga bahan bakar yang masih berupa kayu bakar dapat dipergunakan dengan efisien dalam jumlah batannya tapi hasil pembakaran tetaplah efektif.
Setelah dirasa cukup kental, kemudian dimasukkan kedalam cetakan, cetakkan yang digunakan terbuat dari anyaman daun lontar yang berbentuk seperti gelang, agar mudah dalam mencetak biasanya digunakan sendok sebagai penuang. Tikar hasil anyaman dari daun lontar pun yang biasa digunakan untuk menjadi alas sehingga pada bagian bawah produk gulan lempeng biasa ada cetakan motif seperti yang terdapat pada tikar.
Setelah kering dan mengeras, maka gula lempeng siap untuk dipasarkan. Berdasarkan pantauan, harga gula lempeng berkisar Rp. 500,- /buah.


IV. KESIMPULAN
4.1. Kesimpulan
Gula lempeng merupakan salah satu produk olahan nira hasil sadapan lontar, yang menjadi unggulan kususnya untuk produk makanan. Proses pembuatannyanya pun cukup unik; dimulai dari waktu menyadap, memasak dengan tungku yang khas, hingga mencetak dalam cetakkan kusus. Hamper semua proses masih erat kaitannya dengan produk olahan lontar lainnya yang berbentuk kerajinan tangan seperti wadah hasil anyaman lontar atau Haik untuk menampung sadapan lontar, hingga cetakkan yang terbuat dari anyaman irisan daun lontar yang dibentuk menyerupai gelang. Hal ini menunjukkan bahwa, lontar mempunyai potensi yang sangat luas untuk lebih dikembangkan lagi.

4.2. Saran
Perlu lagi meningkatkan para petani atau penyadap nira lontar untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memasak dan memasarkan produk olahan seperti gula lempeng, karena produk ini sudah umum dan banyak diproduksi. Pengemasan merupakan salah satu bentuk peningkatan nilai tambah, kemasan modern yang menarik tanpa menghilangkan keaslian produk dan keunggulan komparatif seperti cara produksi akan meningkatkan nilai jual gula lempeng. Bila produk ini bisa dipasarkan di Toko – Toko kue atau Bakkery dan sentra penjualan souvenir maka produk ini akan semakin diingat sebagai salah satu penganan khas Nusa Tenggara Timur.




DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford. 1983. Involusi Pertanian. Terjemahan S. Supomo. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Jayusman. 2010. Perkembangan Budidaya Lontar Di Pulau Sawu Nusa Tenggara Timur. Semarang. Universitas Negeri Semarang
wikipedia; zipcodezoo.com. diunggah pada 16 Mei 2011, pukul 21.00 WITA