Senin, 10 Oktober 2011
ANALISIS MANAJEMEN FINANSIAL INDUSTRI RUMAH TANGGA DENDENG SAPI (STUDI KASUS PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA “ABADI JAYA”) DI KELURAHAN SIKUMANA KECAMATAN MAULAFA KOTA KUPANG
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH
PRISCHA JULIAN LULAN
NIM : 0804022587
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat dari data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3 % penduduknya. Didukung pula dengan kondisi yang menguntungkan antara lain berada di daerah tropis yang subur, keadaan sarana prasarana cukup menampilkan sektor pertanian sebagai prioritas dalam pembangunan.
Pembangunan pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencakup usaha – usaha peningkatan produksi pangan lainnya yang berada di sektor holtikultura, peternakan, perikanan dan perkebunan. Salah satu sub sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja dan penghasil devisa adalah peternakan. Hasil dari sub sektor peternakan juga sebagai bahan baku untuk industri pengolahan (BPS NTT, 2005).
Pengertian agribinis menurut (Arifin, 2004), agribisnis mencakup sub sistem sarana produksi atau bahan baku hulu, proses produksi biologis ditingkat bisnis atau usahatani, aktivitas transformasi berbagai fungsi bentuk (pengolahan), waktu (penyimpanan atau pengawetan), dan tempat (pergudangan), pemasaran dan perdagangan, serta sub sistem pendukungnya lainnya seperti jasa, permodalan, perbankan dan sebagainya. Sebagai motor penggerak pembangunan pertanian, agribisnis diharapkan memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan daerah baik dalam sasaran pemerataan pembangunan, pertumbuhab ekonomi maupun stabilitas nasional (Soekartawi, 2001).
Agroindustri merupakan salah satu sub sistem agribisnis yang mengolah bahan baku yang berasal dari tumbuhan dan hewan dengan berbagai bentuk dan perlakuan fisik dan kimia, penyimpanan, pengawasan, sampai pemasaran yang berdampak langsung pada peningkatan nilai tambah, kualitas hasil, penciptaan tenaga kerja, dan peningkatan produksi. Agroindustri memilki peluang besar untuk terus berkembang karena kapasitas cukup besar, yang berarti pula belum terlalu ketatnya pasar bagi produk disektor ini.
Industri rumah tangga adalah bagian dari industri kecil yang diusahakan terutama untuk menambah pendapata keluarga. Badan Pusat Statistik (BPS) menggolongkan industri rumah tangga berdasarkan modal yang dimiliki oleh perusahaan kurang dari Rp.500.000.000/ tahun dengan jumlah pekerja 1 – 4 orang.
Telah berkembangnya enam industri rumah tangga dalam bidang peternakanyang menghasilkan produk antara lain dendeng dan abon (Disperindag Kota Kupang, 2008). Usaha industri rumah tangga tersebut didukung oleh potensi daerah NTT yang dikenal sebagai penghasil ternak sapi. Produksi ternak sapi di NTT khususnya di Kabupaten Kupang pada tahun 2005 sebesar 533.710 ekor dan pada tahun 2006 sebesar 544.482 ekor, dimana terjadi kenaikan sebesar 2,02% (Dinas Peternakan NTT, 2006).
Daging sapi segar mempunyai kandungan gizi yang cukup baik dibanding dengan daging lainnya. Jika daging sapi tersebut diolah menjadi dendeng sapi maka kalori produk menjadi lebih dari dua kali lipat dibanding dengan sapi segar. Selain itu terjadi peningkatan kadar protein dan karbohidrat (per berat basah) sejalan dengan menurunkannya kandungan air. Disamping itu juga terjadi peningkatan kadar kalium, fosfor, serta zat besi, sedangkan vitamin A menjadi rusak total (Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI, 1981). Berikut ini komposisi daging sapi dan dendeng sapi untuk tiap seratus gram bahannya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi daging sapi dan dendeng sapi tiap seratus gram bahan
Komponen Daging Sapi Dendeng Daging Sapi
Kalori (kkal) 207 433
Protein (g) 18,8 55
Lemak (g) 14,0 9
Karbohidrat (g) 0 10,5
Kalsium (mg) 11 30
Fosfor (mg) 170 370
Besi (mg) 2,8 5,1
Vitamin A (SI) 30 0
Vitamin B1 (mg) 0,08 0
Vitamin C (mg) 0 0
Air (g) 66 25
Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI (1981).
Dendeng adalah lembaran daging yang dikeringkan dengan menambahkan campuran gula, garam, serta bumbu – bumbu lain. Masa simpanannya yang lebih lama dibandingkan daging sapi mentah. Pada umumnya dendeng yang ada di pasaran yaitu dendeng sapi, baik dendeng sapi iris (Purnomo, 1986).
Usaha pembuatan dendeng sapi merupakan salah satu bentuk usaha pengolahan hasil produksi peternakan, diolah oleh pengusaha yang merupakan industri hilir dan usaha peternakan sapi potong. Salah satu tujuan pembuatan dendeng sapi sebenarnya adalah sebagai bentuk penganeka-ragaman pengolahan daging sapi yang dapat disimpan lebih lama karena daging mempunyai sifat mudah rusak bila terkontaminasi oleh udara bebas. Tujuan lainnya dari pembuatan dendeng sapi adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, karena dendeng sapi sebagai bahan pengan asal ternak.
Pengembangan industri home industry khususnya dendeng menjadi suatu hal yang sangat mungkin diusahakan. Selain karena tersedianya bahan baku, hal ini didukung pula dengan meningkatnya jumlah penduduk kota kupang setiap tahunnya yang mengisyaratkan adanya peningkatan konsumsi pangan. Selain itu, dendeng juga dapat dijadikan oleh – oleh khas Kota Kupang.
Industri rumah tangga “Abadi Jaya” adalah industri rumah tangga yang menggunakan bahan baku daging sapi segar, dan mengolah daging sapi menjadi dendeng sapi. Sejauh ini pengusaha industri rumah tangga “Abadi Jaya” berusaha untuk meningkatkan produksi, memperoleh keuntungan, dan mengembangkan usahanya dengan cara memasarkan produknya dengan baik. Namun semakin pesatnya perkembangn bisnis dendeng sapi, membuat persaingan usaha semakin gencar. Khususnya persaingan antara dendeng sapi produksi nasional dengan dendeng sapi lokal untuk memenuhi pasar yang begitu besar, pengusaha terus berupaya mengembangkan usahanya. Pengembangan produk dendeng sapi dapat dilihat dari segi kemasan, harga, variasi cita rasa, dan nilai gizinya yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam.
Perumusan Masalah
Industri rumah tangga “Abadi Jaya” merupakan salah satu industri rumah tangga dendeng sapi yang ada di Kota Kupang dan dalam melakukan usahanya tidak terlepas dari persaingan industri rumah tangga lainnya yang menghasilkan produk sejenis. Hal tersebut disebabkan karena tujuan badan usaha selalu ingin mempertahankan keberlangsungan usaha dan memperoleh keuntungan maksimum, serta memberikan kesempatan kerja sehingga dapat membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran.
Dalam upaya mencapai keuntungan yang maksimum sangat bergantung pada manajemen finansial industri rumah tangga ini. Keberhasilan manajemen finansial dapat dilihat dari kemampuan manajer dari industri rumah tangga ini dalam berusaha mencapai tingkat efesiensi yang paling menguntungkan yaitu menganalisis secara tepat setiap komponen biaya produksi yang terjadi, sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin. Apabila biaya dapat ditekan, maka biaya produk per satuan akan rendah, sehingga industri rumah tangga ini dapat menetapkan harga jual yang dapat bersaing dengan produk sejenis. Dengan demikian, produk yang dihasilkan dapat memperoleh pangsa pasar yang luas dan jumlah produk yang dihasilkan akan meningkat. Dan sebaliknya, jika kurang teliti akan menyebabkan kesalahan dalam penetapan harga jual dan besar laba yang ditargetkan yang sangat berguna bagi manajemen dalam mempertimbangkan dampak perubahan biaya terhadap laba, serta membantu manajer perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan pada saat untung maupun tidak untung.
Berdasarkan latar belakang dan pertimbangan diatas, maka masalah yang perlu diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana pengelolaan manajemen usaha dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang?
Berapa besar biaya produksi dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang?
Bagaimana penentuan harga jual dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang?
Berapa besarnya keuntungan yang di peroleh industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang?
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah untuk :
Mengevaluasi pengelolaan manajemen usaha dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang.
Menghitung biaya produksi dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang.
Menentukan harga jual dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang.
Menghitung besarnya keuntungan yang di peroleh industri rumah tangga “Abadi Jaya” di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang.
Penelitian ini diharapkan berguna :
Bagi perusahaan, dalam kaitannya dengan pengembangan usaha di masa yang akan datang dan peningkatan produksi dendeng yang berkualitas.
Bagi Pemerintah dan Dinas-Dinas yang terkait, sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan yang tepat dalam pembangunan pertanian.
Bagi Universitas dan mahasiswa, sebagai bahan informasi ilmiah bagi penelitian selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Rujukan Penelitian Terdahulu
Agribisnis adalah serangkaian kegiatan yang melibatkan subsistem input, subsistem produksiproduksi, subsistem pengolahan (agroindustri), subsitem pemasaran hasil dan subsistem penunjang. Agroindustri usaha yang berkaitan dengan pengolahan yang melibatkan kegiatan pengolahan, pengawetan, penyimpanan dan pengepakan hasil pertanian, khususnya hasil budidaya pesisir dan laut (Ngangi, E.L.A, 2001).
Nubatonis (2000, dalam Julianty, 2004) dalam penelitian tentang penentuan harga produk emping jagung pada perusahaan “Sinar 313” di Kelurahan Sikumana Kota Madya Kupang diperoleh bahwa harga pokok produksi sebagai jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan terbentuk akumulasi biaya bahan baku, tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Penetapan harga emping jagung oleh perusahaan “Sinar 313” berdasarkan harga mark up, meskipun mark up yang ditentukan cukup tinggi, namun produk emping jagung tetap terjual karena perusahaan “Sinar 313” merupakan salah satu penghasil emping jagung terbaik di Kota Kupang.
Hasil penelitian Daris (2001), pada Agroindustri “Abon Jaya” di Kelurahan Naibonat Kecamatan Kupang Timur menyatakan bahwa besarnya perhitungan biaya yang dilakukan oleh agroindustri “Abon Jaya” lebih kecil bila dibandingkan dengan hasil analisis. Hal ini disebabkan karena belum ada penggolongan yang jelas dalam elemen biaya produksi, sehingga berpengaruh terhadap penetapan harga jual abon serta laba yang diperoleh agroindustri “Abon Jaya”. Dikatakan bahwa harga jual abon menin gkat dari tahun ke tahun dan berbanding terbalik dengan produksi abon dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan karena semakin tinggi harga jual abon maka permintaan abon berkurang sehingga agroindustri “Abon Jaya” menurunkan jumlah produksi tiap tahunnya. Harga jual yang tinggi menyebabkan produk yang di jual tidak dapat dijangkau oleh konsumen dan produk akan kalah bersaing. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap laba yang akan diperoleh agroindustri “Abon Jaya”.
Hasil penelitian Pollo (2002), menentukan beberapa kelemahan dalam Agroindustri Dendeng Ikan “Mandiri” antara lain teknologi produksi yang digunakan masih sederhana, produksi yang tidak kontinyu, kapasitas produksi makin rendah dan harga jual yang relative mahal.
Tinjauan Teoritis
Pengertian Agroindustri
Agroindustri merupakan bagian dari industri dengan struktur yang kuat karena mengolah sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Pada kenyataannya, fokus dari agroindustri memang relevan bagi tahap pembangunan saat ini dan waktu mendatang karena disinilah arus industrilisasi dan arus pertanian bertemu. Selain itu, agroindustri merupakan salah bentuk agribisnis yang bertumpu kepada kegiatan pengolahan bahan baku yang berasal dari sektor pertanian (Azis, 1993).
Pengertian Industri Rumah Tangga (Home Industry)
Industri rumah tangga (Home Industry) merupakan bagian dari industri kecil yaitu industri yang diusahakan terutama untuk menambah pendapatan keluarga. Industri rumah tangga mencakup kegiatan usaha yang pengolahan bahan baku berasal dari tanaman atau ternak.
Pengertian Manajemen Finansial
Manajemen usaha adalah kemampuan pengusaha dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan serta mengawasi faktor produksi dalam setiap kegiatan secara efektif dan efisien agar kegiatan apapun yang dilakukan dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai (Swastha dan Ibnu, 2000). Manajemen finansial adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian, dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan (http://www.pengertianmanajemen.com). Masing –masing fungsi manajemen finansial :
Membuat rencana pemasukkan dan pengeluaran serta kegiatan – kegiatan lainnya untuk periode tertentu.
Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.
Menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.
Mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan.
Mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman.
Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan.
Melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.
Pengelolaan Usaha
Swastha (1999) menyatakan produksi adalah pengubahan bahan – bahan dari sumber – sumber (tenaga kerja dan dana) menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Jadi proses produksi adalah suatu kegiatan yang melibatkan pengubahan dan pengelohan berbagai macam sumber menjadi barang dan jasa yang akan dijual.
Dengan memanfaatkan faktor – faktor produksi seperti modal, tenaga kerja dan menajemen secara efektif dan efisien yaitu meminimalkan biaya – biaya sehingga dapat memperoleh keuntungan yang akan berdampak positif bagi perkembangan usaha (Samuelson, 1996).
Proses Produksi
Partadiredja (1999), menyatakan bahwa produksi adalah segala kegiatan utnuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda atau segala kegiatan yang ditujukan untuk memuaskan orang lain melalui pertukaran. Sehingga proses produksi adalah setiap produk untuk menghasilkan barang dan jasa. Maka dapat disimpulkan suatu barang atau jasa akan bernilai bila dapat ditingkatkan penggunaannya melalui suatu proses produksi.
Biaya Produksi
Menurut Soekartawi (1997), biaya – biaya yang dikeluarkan dapat dibedakan dalam beberapa jenis yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang relatif jumlahnya dan tetap dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil produksi.
Biaya produksi terdiri dari 3 elemen yaitu :
Biaya Bahan Baku
Merupakan biaya – biaya secara langsung digunakan dalam proses produksi untuk mewujudkan suatu macam produk jadi yang siap dipasarakan kepada konsumen.
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Merupakan biaya bagi tenaga kerja yang langsung ditempatkan dan didayagunakan dalam menangani kegiatan – kegiatan produksi, menangani segala peralatan produksi sehingga produk dari usaha itu dapat terwujud.
Biaya Overhead Pabrik
Merupakan biaya – biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya asuransi gedung, biaya mesin, biaya kendaraan, serta biaya listrik dan air.
Jenis –Jenis Metode Harga Pokok
Jenis – jenis metode harga pokok dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut :
Metode Harga Pokok Pesanan
Pada metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan bersangkutan.
Metode harga pokok pesanan berfungsi dalam perhitungn harga pokok produksi yang akan membantu perusahaan menghasilkan laba yang optimal denga terpenuhinya realisasi biaya produksi yang budget telah ditentukan sebelumnya.
Metode Harga Pokok Proses
Pada metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses dalam jangka waktu tertentu, biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam proses tertentu, selama periode tertentu, dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan (Mulyadi, 1999).
Jika perusahaan berproduksi secara massa kemudian produknya homogen dan produksinya ditujukan untuk memenuhi persediaan di gudang maka metode pengumpul biayanya memakai metode harga pokok proses.
Penelitian ini akan dilakukan dengan metode harga pokok proses karena metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi perusahaan/ industri yang berproduksi massa, karakteristik produksinya adalah sebagai berikut :
Produk yang dihasilkan berupa produk standar.
Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
Kegitan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.
Penetapan Harga Jual
Harga adalah satu – satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan (Kotler, 1992). Tujuan ditetapkannya harga jual (Rewolt dkk, 1983), adalah untuk mencapai pengembalian atas investasi (Return Of Investment), stabilitas harga dan margin, penetapan harga untuk mencapai target suatu bagian pasar, penetapan harga untuk mengatasi persaingan, dan penetapan harga untuk memaksimalkan laba.
Mulyadi (1991), mendefinisikan harga jual sebagai harga pokok produk setelah ditambah dengan keuntungan yang dikehendaki (Laba yang diinginkan), berhasil tidaknya suatu perusahaan ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan harga jual yang dapat menutupi biaya – biaya produksi yang dikeluarkan untuk mendapatkan laba.
Mark up adalah penambahan biaya pada akhir proses produksi dengan cara mengestimasi (memperkirakan) uang tambahan sebagai keuntungan (profit) yang diambil pedagang, serta item biaya lain. Jika biaya dikenal dengan presentase mark up (kelebihan harga jual diatas harga belinya).
% MU = (Harga Jual per kg-Biaya Produk per kg)/(Biaya Produk per kg) x 100%
Dalam penelitian ini akan digunakan metode penetapan harga mark up dengan alasan biaya merupakan faktor pertimbangan utama dalam menetapkan harga jual sehingga dengan menggunakan metode penetapan harga mark up maka harga jual akan diperoleh setelah menambah mark up didasarkan dari biay produksi yang dikeluarkan.
Mark up yaitu jumlah rupiah yang ditambahkan pada biaya dari suatu produk sehingga menghasilkan harga jual. Jika mark up ditentukan dari biaya produk, maka % mark up harus dikalikan dengan biaya produk, kemudian ditambahkan dengan biaya produk (Swastha dkk, 1990). Secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
Harga Jual =
= Biaya Produk per kg + Mark up per kg
Biaya Produk per kg + (%Mark up per kg x Biaya Produk per kg)
Sedangkan mark up yang ditetapkan dari harga jual ditetapkan dari biaya dibagi dengan satu dikurangi persentase mark up. Secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
Harga Jual = (Biaya Produk per kg)/( ( 1- % Mark up per kg))
Konsep Laba
Laba merupakan selisih antara penerimaan yang diperoleh industri rumah tangga dengan keseluruhan biaya yang dipertimbangkan dalam proses produksi (http://www.pengertianlaba.com).
Soemarto dan Jusuf (1987), menyatakan bahwa laba adalah selisih lebih semua pendapatan dan keuntungan terhadap semua beban dan kerugian. Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal.
METODE PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Industri rumah tangga dendeng sapi “Abadi Jaya” merupakan salah satu industri rumah tangga dendeng sapi di Kota Kupang yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang kontinyu baik secara kualitas maupun kuantitas. Industri rumah tangga ini menghasilkan dendeng sebagai unit usaha untuk memperoleh laba, maka untuk mencapai tujuan tersebut industri rumah tangga ini harus mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perolehan laba.
Dalam proses produksinya, biaya merupakan faktor penting karena berperan sebagai komponen pembentuknya harga produk. Biaya pada industri rumah tangga dendeng sapi “Abadi Jaya” terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, yang merupakan informasi penting bagi pihak manajer dalam menentukan harga jual.
Keputusan menetapkan harga jual ini tergantung pada kemampuan pihak manajemen dalam pengelolaan usaha dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya”. Dengan analisis yang tepat pada setiap komponen biaya maka harga jual yang ditetapkandapat mendatangkan keuntungan yang ditargetkan karena dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.
Dalam mencapai laba yang besar, manajemen dapat melakukan berbagai langkah, misalnya menekan biaya produksi serendah mungkin dengan mempertahankan tingkat harga jual, menentukan harga jual sesuai dengan laba yang dikehendaki dan meningkatkan volume penjualan.
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka secara skema dapat digambarkan sebagai berikut :
GAMBAR 1. SKEMA KERANGKA BERPIKIR DARI INDUSTRI RUMAH TANGGA “ABADI JAYA”
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada industri rumah tangga dendeng sapi “Abadi Jaya”, jalan H. R Koroh di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang pada bulan Januari hingga Februari 2011.
Metode Penentuan Lokasi dan penetapan Sampel
Penelitian lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus yaitu pada industri rumah tangga dendeng sapi “Abadi Jaya”. Dengan dasar pertimbangan bahwa industri rumah tangga ini merupakan salah satu produsen dendeng di Kota Kupang, dan sudah berjalan selama 8 tahun. Produksinya kontinyu, produknya habis terjual walaupun banyak industri yang memproduksi produk sejenis (dendeng sapi). Disamping itu rumah tangga ini masih melakukan pembukuan secara sederhana tanpa penggolongan lebih lanjut terhadap komponen biaya yang seharusnya dipertimbangkan sebagai bahan informasi untuk menentukan besarnya harga jual dan target laba yang diinginkan.
Penelitian kasus adalah penelitian yang mendalam mengenai kasus tertentu yang hasilnya merupakan gambaran lengkap dan terorganisir mengenai kasus tersebut. Study kasus cenderung hanya meneliti jumlah unit yang kecil. Study kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang dan lebih intensif menerangi variabel-variabel penting, proses dan interaksi yang memerlukan perhatian yang lebih luas. Namun study kasus juga mempunyai kelemahan yaitu, tidak memungkinkan generalisasi yang obyektif pada populasi sebab representatif perincian kasus memang sangat terbatas (Wirartha, 2006).
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Observasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung, dilakukan dengan pengamatan pada obyek ditempat terjadinya peristiwa dan tidak langsung, misalnya mengamati lewat film atau foto. Sedangkan teknik wawancara adalah cara mengumpulkan data melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data dengan sumber data yang disebut responden (Nawawi, 2001).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pemilik berdasarkan daftar pertanyaan yang diberikan dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini, serta lembaga atau instansi yang berhubungan dengan penelitian seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Dinas Peternakan NTT, Badan Pusat Statistik NTT, dan Jurnal Penelitian yang terkait.
Pengamatan dan Konsep Pengukuran
Identitas responden pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan formal dan non formal, lamanya usaha dan pengalaman mengelola industri rumah tangga.
Sejarah berdirinya industri rumah tangga “Abadi Jaya”, bidang usaha dan struktur organisasi.
Proses produksi yaitu urutan kegiatan yang dilakukan mulai dari pembuatan dendeng sapi sampai pengepakan.
Jumlah produk yang dihasilkan dalam sekali berproduksi (Kg).
Jumlah bahan baku yaitu total daging sapi mentah yang digunakan untuk setiap proses produksi (Kg).
Biaya bahan baku yaitu jumlah perolehan bahan baku yang diolah setiap proses produksi (Rp/Kg).
Jumlah bahan penolong ialah bahan yang tidak menjadi produk jadi atau meskipun menjadi bagian dari produk jadi tapi nilainya relatif kecil dibandingkan harga pokok produk, misalnya didalam proses produksi dendeng sapi, sejumlah bumbu merupakan bahan penolong (Kg).
Biaya bahan penolong adalah jumlah perolehan bahan penolong yang digunakan dalam setiap proses produksi yang diukur dalam Rp/Kg
Jumlah tenaga kerja langsung yaitu jumlah tenaga kerja yang langsung berhubungan dengan proses produksi (Orang).
Biaya tenaga kerja langsung yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja langsung terlibat dengan proses produksi (Rp).
Biaya overhead pabrik yaitu semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, misalnya biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya asuransi gedung, biaya mesin, biaya penyusutan, biaya kendaraan, serta biaya listrik dan biaya air (Rp).
Biaya produk ialah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau memproduksi barang atau produk (Rp/Kg).
Mark up (MU) adalah jumlah rupiah yang ditambahkan pada biaya dari suatu produk untuk menghasilkan harga jual.
Jumlah penjualan yaitu jumlah keseluruhan produk yang terjual (Kg).
Harga jual adalah harga yang ditetapkan oleh industri rumah tangga “Abadi Jaya” (Rp/Kg).
Modal usaha yaitu besarnya modal yang digunakan untuk memulai usaha (Rp).
Penerimaan adalah sejumlah uang yang diperoleh industri rumah tangga “Abadi Jaya”dari hasil penjualan dendeng sapi (Rp).
Metode penetapan harga jual adalah cara atau teknik dari perusahaan dalam menentukan besarnya harga jual dendeng sapi.
Lokasi pemasaran, yaitu tempat lokasi terjadinya kegiatan pemasaran atau distribusi dendeng sapi.
Model dan Analisis Data
Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis berdasarkan tujuan penelitian yaitu : untuk menjawab tujuan pertama yakni untuk mengetahui sejauhmana pengelolaan usaha dendeng sapi pada industri rumah tangga “Abadi Jaya” dilakukan analisis secra deskriptif dengan melihat alat produksi yang digunakan, struktur organisasi, dan proses produksi yang dijalankan oleh industri rumah tangga “Abadi Jaya”.
Untuk menjawab tujuan kedua yaitu menganalisis biaya produksi dengan menggunakan metode harga pokok proses (Mulyadi, 1999) untuk menghitung biaya produksi dalam penetapan harga jual adalah :
Biaya Produksi :
Biaya Bahan Baku Rp XXX
Biaya Bahan Penolong Rp XXX
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp XXX
Biaya overhead pabrik Rp XXX +
Total Biaya Produksi Rp XXX
Biaya Produksi per unit :
Total biaya produksi untuk periode tertentu
Volume produksi yang dihasilkan dalam periode bersangkutan
Untuk menjawab tujuan ketiga dan keempat yakni menentukan harga jual dan mengetahui besarnya laba yang diperoleh industri rumah tangga “Abadi Jaya” tersebut, maka dilakukan pertimbangan harga jual dan analisis rugi laba dengan formulasi (Mulyadi, 1991) sebagai berikut :
% MU = (Harga Jual per kg-Biaya Produk per kg)/(Biaya Produk per kg) x 100%
Harga Jual =
= Biaya Produk per kg + Mark up per kg
Biaya Produk per kg + (%Mark up per kg x Biaya Produk per kg)
Laporan Rugi Laba :
Penjualan Rp XXX
Biaya Penjualan Rp XXX +
Laba Kotor Rp XXX
Pajak Rp XXX +
Laba Bersih Rp XXX
DAFTAR PUSTAKA
Azis. 1993. Agroindustri Buah-buahan Tropis. Penerbit Bangkit. Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2002. Statistik Pertanian NTT. Propinsi NTT
Daris, I. M. 2001. Analisis Biaya Pengolahan Abon Pada Industri Rumah Tangga “Abon Jaya” di Kelurahan Naibonat Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Skripsi Faperta Undana, Kupang.
Dinas Peternakan. 2006. Peternakan Dlam Angka. NTT
Disperindag Kota Kupang. 2008. Daftar Sentra Produksi Kecil. Kupang
Mubyarto. 1993. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta
Mulyadi. 1991. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Bagian Penerbit STIE YPKN. Yogyakarta
Mulyadi. 1999. Akuntansi Biaya. Edisi VI. Penerbit Aditya Media . Yogyakarta
pollo, Grefer. 2002. Strategi Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Agroindustri di Kelurahan Oesapa Kota Kupang. Skripsi Faperta Undana, Kupang.
Daris, I. M. 2001. Performance Agroindustri Dendeng Sapi Murni ( Studi Kasus Pada Industri Rumah Tangga “Angkasa Timor”) di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Skripsi Faperta Undana, Kupang.
Soekartawi. 1998. Agribisnis dan Teori Aplikasinya. Raja Grafindo Persada. Jakarta
PROPOSAL PENELITIAN ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH (Oryzae sativa L) DI KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG
MARIA .Y.PUU HEU POLI
O804022580
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan salah satu system pembangunan yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional.Pembangunan sector pertanian bertujuan untuk menumbuhkembangkan usaha pertanian di pedesaan yang akan memacu aktivitas ekonomi pedesaan,menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat;menumbuhkan industri hulu,hilir dan penunjang dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah suatu produk pertanian;memanfaatkan suberdaya pertanian secara optimal melalui pemanfaatan teknologi yang tepat sehingga kapasitas sumberdaya pertanian dapat dilestarikan dan ditingkatkan;membangun kelembagaan pertanian yang kokoh dan mandiri serta meningkatkan kontribusi sector pertanian dalam pemasukan devisa (http://www.deptan.go.id).
Pengembangan tanaman pangan merupakan salah satu bagian dari sector pertanian yang mendapat perhatian serius dan terus dikembangkan sampai saat ini.tujuan pembangunan pangan adalah untuk mewujudkan kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan dengan gizi yang cukup bago penduduk untuk menjalani hidup yang sehat dan produktif.dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perubahan selera makan maka ketersediaan pangan harus ditingkatkan baik dalam jumlah,kualitas maupun keragamannya (http://www.deptan.go.id).
Padi sawah dipilih oleh petani sebagai salah satu komuditas yang diusahakan karena peranannya sebagai salah satu makanan pokok NUSA TENGGARA TIMUR yang makin hari terasa penting karena mengandung nilai gizi dan energy yang cukup bagi tubuh manusia,dapat menciptakan lapangan pekerjaan serta dapat meningkatkan pendapatan petani (BPS kabupaten Kupang,2005)
Kabupaten Kupang sebagai salah satu kawasan penghasil produk pertanian di Nusa Tenggara Timur memiliki wilayah seluas 589.818 hektar dengan 20.331 hektar merupakan tanah sawah yang sangat berpotensiuntuk produksi tanaman pangan khususnya padi.Hal ini dapat di lihat dari produktifitas padi sawah di Kabupaten kupangyang semakin meningkat dari tahun ke tahun yaitu pada tahun 2003 produktifitas padi sawah sebesar 25,00kw/ ha dengan luas panen 16.827ha, pada tahun 2004 naik menjadi 35,00 kw/ ha dengan luas panen 13.452 ha dan pada tahun 2005 naik lagi menjadi 35,00 kw/ha dengan luas panennya 12.106 ha.Peningkatan pruduktivitas ini disebabkan karena adanya penggunaan bibit unggul,penggunaan pupuk serta adanya penggunaan peralatan pertanian yang semakin modern (BPS kabupaten Kupang,2005)
Berdasarkan potensi sumber daya alamnya,Kecamatan KUPANG TIMUR merupakan daerah yang berpotensi sebagai salah satu penghasil tanaman pangan khususnya padi sawah (BPS Kabupaten Kupang,2005)
Dengan adanya peningkatan produktivitas ini diharapkan dapat memberika kontribusi pada pendapatan keluarga petani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR .Sadar atau tidak,para petani sudah menerapkan prinsip ekonomi didalam usahataninya.hanya saja belum pernah dilakukan penelitian tentang hal tersebut.oleh karena itu penulis ingin menelaah lebih jauh seberapa besar pendapatan usahatani padi sawah yang diperoleh oleh para petani dikecamatan KUPANG TIMUR.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana keragaman usahatani padi sawah dikecamatan kupang timur yang meliputi luas lahan,pola tanam,penggunaan sarana produksi,teknik budidaya,produksi dan produktivitasnya?
2. Bagaimana besar pendapatan usahatani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR?
3. Berapa besar BEP produksi dan BEP harga dari usahatani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR?
4. Berapa keuntungan relative usahatani padi swah dikecamatan KUPANG TIMUR?
5. Berapa tingkat efisiensi penggunaan modal dalam usahatani sawah di kecamatan KUPANG TIMUR?
1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN
Adapun tujuan yang diinginkan dicapai dari penelitian ini adalah :
1.3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui keragaman usahatani padi sawah dikecamatan kupang timur yang meliputi luas lahan,pola tanam,penggunaan sarana produksi,teknik budidaya,produksi dan produktivitasnya
2. Untuk menghitung besarnya pendapatan usahatani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR
3. Untuk menghitung besarnya BEP produksi dan BEP harga dari usahatani padi swah dikecamatan KUPANG TIMUR
4. Untuk mengetahui besarnya keuntungan relative usahatani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR
5. Untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan modal dalam usahatani padi sawah dikecamatan KUPANG TIMUR
1.3.2 Kegunaan
Kegunaan dari penelitian inin adalah :
1. Bagi petani sebagai bahan informasi untuk memotivasi petani dalam melakukan usahatani
2. Bagi pemerintah sebagai informasi untuk pembinaan serta pengambilan kebijakan disektor pertanaian khususnya tanama padi sawah
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 RUJUKAN PENELITIAN TERDAHULU
Killa (1990) pada usahatani padi sawah dikecamatan aesesa,kabupaten Ngada menyatakan bahwa perlu memperhatikan factor-faktor produksi seperti penggunaan benih,pupuk dan pestisida sehingga hasil yang diharapkan dapat diperoleh.Selanjutnya ditegaskan pula bahwa padi sawah mempunyai peranan yang baik dalam sumbangannya terhadap tingkat pendapatan petani.hal ini terlihat dari jumlah pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani padi sawah sebesar Rp.889.217 ha.jika pendapatan ini dikonversikan kedalam bersa dengan harga standar rp.450,- pada tahun 1990,maka rata-rata pendapatan petani adalah ± 1.976,04 kg setara beras.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Adoe (1998) bahwa,secara ekonomis usahatani padi sawah dikecamatan rote timur menguntungkan dengan nilai R/C ratio 3,18 dengan total pendapatan sebesar Rp.8.462.297,00/petani atau Rp.4.614.464,02/hektar.usahatni padi sawah dikecamatan Rote timur kabupaten Rote ndao menunjukan bahwa penggunaaan sarana produksi sepertin pupuk dan pestisida masih dalam batasan yang wajar (dalam segi jumlah dan dosis)sesuai dengan yang dimiliki/digunakan.
Penelitian yang dilakukan oleh Srilangga (1998) menyatakan bahwa rata-rata pendapatan usahatani padi sawah dikecamatan kupang timur,kabupaten kupang pertahun semakin meningkat pada tahun 2003 produktifitas padi sawah sebesar 25,00kw/ ha dengan luas panen 16.827ha, pada tahun 2004 naik menjadi 35,00 kw/ ha dengan luas panen 13.452 ha dan pada tahun 2005 naik lagi menjadi 35,00 kw/ha dengan luas panennya 12.106 ha.
2.2 LANDASAN TEORITIS
Ciri-ciri tanaman padi sawah
Padi termasuk dalam keluarga padi-padian,batang beruas-beruas yang didalamnya berongga
( kosong),tingginya 1 sampai dengan 1,5 m.Pada bungannya da dua helai sekam mahkota.Akar-akar tanaman padi masuk kedalam tanah sedalam lapisan tanah yang dikerjakan,umumnya tidak llebih dari 25 cm.diatas batang padi berisi empelur yang lunak dan putih warnanya,daun padi terdiri pelepah yang membalut batang dan helai daun.Jumlah cabang rata-rata 15-20.Buah beras sebenarnya adalah putih lembaga buah yang erat terbalut oleh kulit ari,kulit ari ini terdiri dari kulit biji dan dinding buah
( Soemartono,1982).
Syarat tumbuh padi sawah
1. Iklim
a) Padi sawah dapat tumbuh didaerah tropis/subtropics pada derajat LU sampai $% derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan
b) Rata-rata hujan yang baik adalah 200mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun
c) Didataran rendah padi sawah memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 0c sedangkan didataran tinggi 650-1500 m dpl dengan temperature 19-23 0c
2. Media tanam
a) Padi sawah ditanam ditanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm dibawah permukaan tanah
b) Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm
c) Keasaman tanah antar pH 4,0-7,0.
Aspek teknik budidaya padi sawah
1. Pengolahan lahan
Sistem budidaya padi sawah biasanya didahului oleh pengolahan tanah seraya petani melakukan persemaian.Tujuannya adalah untuk memperbaiki tata udara tanah,merangsang perkecembahan biji,memberantas gulma dan sekaligus untuk memperoleh tanah yang gembur dan mempunyai permukaan yang rata(AKK,1990)
2. Pemilihan Benih
Benih yang disemaikan harus baik yaitu mempunyai daya tumbuh yang tinggi karena mempunyai hubungan pertumbuhan dan pembentukan bulir yang seragam,masaknya biji padi serempak sehingga memudahkan pemanenan.Benih yang baik mempunyai syarat sebagai berikut :
• Benih bermutu dan bersih dari campuran kotoran
• Bebas dari hama dan penyakit
• Memiliki daya kecambah yang tinggi (80 %)
• Kadar air dalam gabah maksimal 14 % ,dan
• Apabila benih yang dimasukan dalam larutan garam atau abu,benih tersebut akan tenggelam (AKK,1990)
3. Penanaman bibit
Bibit yang akan ditanam adalah bibit yang sudah berumur 25-40 hari,tingginya kurang lebih 25 cm,berdaun 5-7 helai,batangnya besar dan kuat serta bebas dari hama dan penyakit.bibit padi ditanam dengan bagian pangkal batang dibenamkan kira-kira 10 cm kedalam petakan dengan jarak tanam 20 x 20 cm.hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam melakukan penyiangan dan pemupukan ( Sugeng,2003)
4. Pengairan
Padi sawah merupakan tanaman yang membutuhkan air yang cukup banyak tergantung dari umur tanaman tersebut.
5. Penyiangan
Penyiangan dilakaukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan sekaligus dengan menggemburkan tanah,penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat berumur 15 dan 35 hari setelah ditanam (Utomo dan Nazaruddin,2002)
6. Penyulaman
Penyulaman bibit dilakukan seminggu setelah penanaman atau paling lambat 2 minggu karena penyulaman yang lebih lama akan dapat mengakibatkan tidak serempaknya padi masak.bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada persemaian bibit (Utomo dan Nazaruddin,2002)
7. Pemupukan
Pada usahatani padi sawah pupuk yang digunakan adalah pup[uk alam(organic) meliputi pupuk kandang,pupuk kompos dan pupuk hijau.Sedangkan pupuk buatan N (Urea),
pupuk K ( Kalium ),dan pupuk Fosfor (TSP),(Utomo dan Nazaruddin,2002)
8. Pengendalian hama dan penyakit
Subiyakto (1991) menjelasakan bahwa dalam pengendalian hama dan penyakit padi dipilih pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.Artinya dalam pelaksanaanya diikutsertakan berbagai komponen pengendalian antar-lain :
a) Pengendalian secara budidaya
Pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara pengolahan yang baik,menggunakan benih yang rentan terhadap hama penyakit tanaman,bibit yang tepat umur,jarak tanam yang tepat,mengatur ketinggian air dalam kondisi yang normal,menanam varietas padi yang berumur pendek,memupuk tanaman dengan dosis nitrogen yang tepat,melakukan rotasi tanaman dan menanam padi secara serempak
b) Varietas Tahan
Varietas tahan adalah varietas padi yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit,menghasilkan produksi yang tinggi dan berkualitas tinggi.
c) Pengendalian hama dan penyakit secara hayati
Pengendalian hama dan penyakit secara hayati adalah pengendalian hama dengan membiakan secara missal musuh alami tanaman padi secara buatan
d) Pengendalian hama dan penyakit secara kimia
Pengendalian hama dan penyakit secara kimia menggunakan pestisida.
9. Pemanenan
Tanaman padi siap dipanen pada saat berumur 80-110 hari setelah tanam atau bias diliat dari ciri-ciri tanaman tersebut.Ciri-ciri tanaman padi tersebut yang siap dipanen adalah :
a) BUlir-bulir padi dan daunya sudah menguning
b) Tangkai menunduk
c) Butir padi bila ditekan terasa keras dan berisi
d) Butir padi jika dikupas tidak berwarna hijau/putih agak lembek seperti kapur ( Sugeng,2003)
10. Penanganan pascapanen
Penanganan pascapanen adalah tindakan yang dilakukan atau disiapkan pada tahap pasca panen agar hasil pertanian khususnya tanama padi sawah siap dan aman dikomsumsi oleh konsumen.Penanganan pasca panen meliputi semua kegiatan mulai dari kegiatan pemanenan,pengeringan,dan penyimpanan (Suprayono dan Setyono,1993)
2.3 USAHATANI
Menurut Mosher(1987) usahatani adalah bagaian dari permukaan bumi dimana sorang petani atau suatu keluarga tani atau badan-badan tertentu bercocok tanam dan memelihara ternak.Mubyarto(1989) menegaskan bahwa usahatani merupakan himpuan dari sumber-sumber alam yang terdapat pada tempat itu diperlukan untuk produksi pertanian seperti tumbuhan,tanah,air,perbaikan-perbaikan yang telah dilakakukan atas tanah itu,sinar matahari dan bangunan-bangunan yang dibangun diatas tanah tersebut.
Menurut Hernanto(1991)factor produksi meliputi lahan,tenaga kerja,modal,jumlah tanggungan keluarga dan tingkat teknologi yang dapat menentukan keberhasilan usahatani.Sedangkan factor-faktor luar yang mempengaruhi keberhasilan usahatani adalah tersediannya sarana transportasi dan komunikasi,aspek-aspek pemasaran hasil dan bahan usahatani(produksi,harga hasil,harga sarana produksi lain,fasilitas kredit dan sarana penyalur hasil)
2.4 TANAH ATAU LAHAN
Mubyarto(1989)menyatakan bahwa tanah merupakan factor produksi yang paling penting karena tanah merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana output.Hernanto (1991) mendefinisikan tanah sebagai factor produksi usatani yang relative langka dibanding dengan factor produksi lainya dan distribusi pengusahaanya dimasyarakat tidak merata.
2.5 TENAGA KERJA
Soehardjo dan patong(19790 mengartikan tenaga kerja sebagai daya manusia untuk melakukan usaha yang dijalankan untuk memproduksi benda-benda.Selanjutnya Hernanto (1991) membedakan tenaga kerja atas 3 yaitu :
Tenaga kerja manusia,tenaga kerja ternak dan tenag kerja mekanik,sedangkan untuk tenag kerja manusia dibedakan menjadi tenag kerja pria dewasa,wanita dan anak-anak.
Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja (1983) membentuk konversi kerja dengan membandingkan tenaga kerja pria(TKP) sebagai ukuran baku dan tenaga kerja lain disertakan dengan pria,yaitu 1 tenaga kerja pria sama dengan 1 HKP,! Tenaga kerja wanita sama dengan 0,8 HKP dan tenaga kerja anak-anak sama dengan 0,5 HKP.Satuan ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya curahan tenaga kerja dalam kegiatan usahatani digunakan perhitungan Hari Kerja Orang (HKO),Perhitungan Hari Kerja Orang (HKO) secara sistematis dapat diformulasikan sebagai berikut :
HKO = Jumlah tenaga kerja x Jumlah Jam Kerja x hari Kerja
7
2.6 MODAL
Dalam usahatanimodal merupakan barang atau uang yang bersama-sama factor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang berupa hasil pertanian.Modal dalam suatu usahatani dapat dibedakan atas sifatnya yaitu modal tetap dam nodal tidak tetap.Modal tetap diartikan sebagai modal yang tidak habis dipakai pada suatu periode produksi (tanah,bangunan,mesin,dan investasi),sedangkan modal tidak tetap diartikan sebagai modal yang habis dipakai pada satu periode produksi yang meliputi :bibit,pupuk,obat-obatan,uang tunai,dan lain-lain(Mubyarto,1989).
2.7 PENGELOLAAN
Pengelolaan usahatani meliputi kemampuan petani dalam menentukan dan mengkoordinasikan factor-faktor produksi yang bermacam-macam seefektif mungkin sehingga produksi pertanian memberikan hasil yang lebih baik.dengan demikian pengelolaan usahatani bukan hanya menyangkut cara memperoleh hasil semaksimal mungkin dari cabang usahatani yang diusahakan tetapi juga mempertinggi pendapatan dari suatu cabang usahatani(Soehardjo dan patong,1979).
2.8 BIAYA USAHATANI
Konsep biaya menurut Hernanto (1989) adalah korbanan yang dicurahkan dalam proses produksi yang semula fisik kemudian diberikan nilai Rupiah sehingga biaya-biaya tidak lain adalah korbanan.Lebih lanjut Soekartawi (1995) mengklasifikasikan biaya produksi usahatni menjadi 2 yaitu :
• Biaya tetap (fixed cost)adalah biaya yang dipergunakan tidak habis dalam satu proses produksi dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit,besar biaya tidak tergantung pada besar kecilnya biaya produksi yang diperoleh.Biaya tetap meliputi ;sewa,tanah,pajak,biaya alat pertanian dan penyusutan alat pertanian.
• Biaya Variabel (variable cost)adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil produksi.biaya variable ini meliputi : biaya bibit,biaya pupuk,biaya pengolahan tanah dan biaya tenaga kerja.
2.9 PENERIMAAN USAHATANI
Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jumlah tertentu yang dijual,diberikan kepada orang lain dan yang dikomsumsi yang diperoleh dari jumlah produk secara keseluruhan dikalikan dengan harga yang berlakau ditingkat petani.
Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah perkalian antar produk dengan harga jual.Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :
TR = Py.Y
Dimana :
TR = Total penerimaan
Py = Harga
Y = Produksi
2.10 PENDAPATAN USAHA TANI
Dalam teori ekonomi pertanian tingkat pendapatan pertanian menjadi focus dari setiap tujuan aktivitas usahatani,tinggi rendahnya modal usaha akan berpengaruh terhadap pruduksi yang akhirnya kembali berdampak pada pandapatan petani.
Menurut Tjakrawiralaksana (1983) Pendapatan usahatani adalah sisa beda dari pada penggunaan nilai penerimaan usahatani dengan biaya-biaya yang dikeluarkan.Ada beberapa ukuran untuk menghitung pendapatan usahatani yaitu :
• Pendapatan usahatni diperoleh dengan menghitung semua penerimaan dikurangi dengan semua pengeluaran
• Pendapatan keluarga tani diperoleh dari menambah pendapatan tenag kerja keluarga dengan bungan modal milik sendiri dan nilai sewa
• Pendapatan petani diperoleh dari menambah pendapatan tenaga kerja biaya modal sendiri.
Soekarawi (1995) Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan.Selanjutnya dikatakan bahwa pendapatan rumah tangga petani adalah keseluruhan pendapatan petani,tidak saja dari usaha bidang pertanian dari usaha non pertanian juga.secara matematis pendapatan usahatani diformulasikan sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Dimana :
Pd = Pendapatan usahatani
TR = Total Penerimaan
TC = Total biaya
2.11 BREAK EVENT POINT ( BEP)
Break event point merupakan suatu keadaan impas atau kembali modal.Pada BEP hasil yang diperoleh sama dengan modal yang dikeluarkan.Ada dua macam perhitungan BEP yakni :
a) BEP Produksi = total biaya produksi
Harga ditingkat petani
b) BEP Harga = total biaya produksi
Total produksi
2.12 Analisis R/C ratio
Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja (1983) menyatakan bahwa analisis R/C ratio adalah imbangan antara penerimaan dan biaya.Analisis ini dipakai untuk melihat keuntungan relative dari suatu kegiatan usahatani.Secara matematis R/C ratio dapat diformulasikan sebagai berikut :
RC = total penerimaan
Total biaya
Kriteria penilaian R/C ratio adalah :
• JIka R/C ratio < 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakukan tidak menguntungkan
• Jika R/C ratio = 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakaukan tidak menguntungkan dan tidak merugikan
• Jika R/C ratio > 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakukan menguntungkan sehingga usahatani tersebut layak untuk diusahakan
2.13 Return On Investment ( ROI)
ROI atau tingkat efisiensi penggunaan modal adalah pengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan.Semakin tinggi rasio ini,maka semakin baik pula keadaan perusahaan.Analisis ini dapat diformulasikan sebagai berikut :
ROI = pendapatan usaha tani
Total biaya x 100
METODE PENELITIAN
3.1 KERANGKA BERPIKIR
Dalam setiap kegiatan usahatani petani harus berusaha untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya dengan harapan akan meningkatkan pendapatan dari usahatani tersebut.Oleh sebab itu dalam menjalankan usahataninya,petani perlu mengadakan perhitungan secara ekonomis untuk mengetahui apakah usahanya menguntungkan atau merugikan.
Peningkatan produktivitas produksi dan produktivitas suatu usahatani sangat ditentukan oleh aspek pembudidayaan,keragaman usahatani yang meliputi : jenis bibit,luas lahan,pola tanam dan penggunaan sarana produksi.Dengan demikian peningkatan ini maka pendapatan suatu usahatani akan meningkat pula.
Usahatani padi sawah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang petani baik sebagai manejer,penggarap atu penyewa tanah pada sebidang tanah yang dikuasai,tempat mengelola dengan segala kemampuan untuk memperoleh hasil produk(gabah) yang tinggi.
Kecamatan Kupang Timur merupakan daerah yang berpotensi sebagai salah satu penghasil tanaman pangan khususnya padi swah yang dapat memberikabn kontribusi pada pendapatan usahatani.Untuk mengetahui pendapatan digunakan perhitungan selisih antar penerimaan usahatani padi sawah dan total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani padi sawah.Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jumlah yang tertentu yang dijual,diberikan kepada oranglain dan yang dikomsumsi yang diperoleh dari jumlah produk secara keseluruhan dikalikan dengan harga yang berlaku ditingkat petani.Sedangakan keuntungan relative diperoleh dari perbandingan antara pendapatan dan total biaya.
3.2 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan diKecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang pada bulan Agustus 2010 sampai bulan Nopember 2010.
3.3 METODE PENENTUAN TEMPAT DAN CONTOH
Pengambilan sampel dilakukan secara bertahap yakni tahap 1 penentuan desa secara sengaja
Dimana dari 6 desa yang ada dikecamatan kupang timur hanya terdapat 4 desa sebagai penghasil padi sawah dan ditetapkan 2 desa contoh yakni desa Tarus dan desa Oesao.Hal ini diambil dengan alasan kedua desa tersebut memiliki jumlah produksi yang terus meningkat dari tahun ketahun yakni pada tahun 2003 produktifitas padi sawah sebesar 25,00kw/ ha dengan luas panen 16.827ha, pada tahun 2004 naik menjadi 35,00 kw/ ha dengan luas panen 13.452 ha dan pada tahun 2005 naik lagi menjadi 35,00 kw/ha dengan luas panennya 12.106 ha sedangkan pada tahap 2 penentuan petani responden yang dilakukan secara disproportional random sampling,karena sifat usaha tani disetiap tempat tersebut homogen(sama),dengan ditetapkan sebanyak 20 petani per-desa sehingga total responden kedua desa berjumlah 40 orang.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey.data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani contoh yang berpedoman pada daftar pertayaan yang telah disiapkan,sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian dan juga dari hasil studi kepustakaan.
3.5 KONSEP PENGUKURAN
Variable-variabel yang diamati dalam penelitian ini :
a. Identitas responden yang meliputi : umur(tahun),pendidikan (pendidikan formal dan non formal),jumlah tanggungan keluarga(Orang).
b. Luas lahan garapan yang diusahakan untuk menanam padi sawah selama musim tanam 2009(ha).
c. Jumlah pengeluaran yaitu total pengeluaran yang digunakan dalam kegiatan usahatani padi sawah selama musim tanam 2009 yang meliputi : benih (kg/ha),pupuk ( kg/ha) dan pestisida (liter/ha).
d. Biaya produksi adalah jumlah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani padi sawah selama tahun 2009 yang meliputi : benih,pupuk,pestisida,upah tenaga kerja dan peralatan pertanian yang diukur dalam Rp
e. Curahan tenaga kerja yaitu banyaknya tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi usahatani padi swah baik berasal dari dalam maupun luar keluarga selam tahun 2009 (HKO)
f. Harga yaitu harga gabah yang berlaku ditingkat petani tahun 2009 (Rp/kg)
g. Penerimaan adalah nilai produk total usahatani padi sawah dalam jumlah tertentu yang dijual,diberikan kepada orang lain dan yang dikomsumsi yang diperoleh dari jumlah produk secara keseluruhan dikalikan dengan harga yang berlaku ditingkat petani selama tahun 2009 (Rp).
h. Pendapatan adalah selisih antar total penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan dalam usahatani padi sawah ( Rp).
3.6 MODEL DAN ANALISIS DATA
Data yang dikumpulkan ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian.
1) Untuk menjawab tujuan pertama tentang keragaman usahatani padi sawah digunakan analisis deskriptif
2) Untuk menjawab tujuan kedua tentang pendapatan usahatani padi sawah digunakan rumus sesuai dengan petunjuk Soekartawi (1995) bahwa pendapatan usahatani merupakan selisih antara total penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan.Selanjutnya dikatakan bahwa pendapatan rumah tangga petani adalah keseluruhan pendapatan petani,tidak saja dari usaha bidang pertanian dari usaha non pertanian juga.Secara matematis pendapatan usahatani diformulasikan sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Dimana :
Pd = Pendapatan usahatani
TR = Total Revenue ( Total Penerimaan)
TC = Total Cost ( Total biaya )
Dari persamaan diatas maka dapat dijabarkan menjadi :
Pd=py.Y-(Px1.X 1+px2.X2+ Px3.X3=Px4.X4=px5.X5 +Px6.X6)
Dimana :
Pd = Pendapatan usahatani
Py = Harga produk
Y =Jumlah produksi
Px1 = harga benih(Rp)
X1 = Jumlah benih (Rp)
Px2 =Harga pupuk (Rp)
X2 =Jumlah pupuk (Kg)
Px3 =Harga pestisida(Rp)
X3 =Jumlah pestisida(liter)
Px4 =Upah tenaga kerja(Rp)
X4 =Jumlah tenaga kerja(HKO)
Px5 =Harga sewa per luas lahan (Rp)
X5 =Jumlah Luas lahan(ha)
Px6 =Harga Padi(Rp)
X6 =Jumlah padi untuk biaya rontok(Kg)
3) Untuk menjawab tujuan ketiga tentang BEP produksi dan BEP harga dari usahatani padi sawah digunakan rumus sesuai dengan petunjuk ( Darsono Prawironegoro dan Ari Purwati,2008) menyatakan bahwa keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak juga menderita rugi yang dapat diformulasikan kedalam 2 bentuk yakni :
a) BEP Produksi = total biaya produksi
Harga ditingkat petani
b) BEP Harga = total biaya produksi
Total produksi
4) Untuk menjawab tujuan keempat tentang keuntungan relative usahatani padi sawah digunakan rumus sesuai dengan petunjuk Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja (1983) menyatakan bahwa analisis R/C ratio merupakan imbangan antara penerimaan dan biaya.Dimana analisis ini dipakai untuk melihat keuntungan relative dari suatu kegiatan usahatani.Secara matematis R/C ratio dapat diformulasikan sebagai berikut :
R/C = total penerimaan
Total biaya
Kriteria penilaian R/C ratio adalah :
• JIka R/C ratio < 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakukan tidak menguntungkan
• Jika R/C ratio = 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakaukan tidak menguntungkan dan tidak merugikan
• Jika R/C ratio > 1,berarti secara ekonomi usaha yang dilakukan menguntungkan sehingga usahatani tersebut layak untuk diusahakan
5) Untuk menjawab tujuan kelima tentang tingkat efesiensi penggunaan modal dalam usahatani padi sawah sesuai petunjuk (Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja,1983) bahwa pengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan.Semakin tinggi rasio ini,maka semakin baik pula keadaan perusahaan sehingga analisis ini dapat diformulasikan sebagai berikut :
ROI = pendapatan usaha tani
Total biaya x 100%
DAFTAR PUSTAKA
AAK,1990.Budidaya Tanaman Padi.Kanisius.Yogyakarta.
Hernanto,1991.Ilmu usahatani.Penebar swadaya.Jakarta.
http:// www.deptan.go.id. 17 September 2009.visi / visi misi.htm
Mubyarto,1989.Pengantar Ekonomi Pertanian.LP3ES.jakarta
Soekartawi,1995.Analisis Usahatani.UI.Jakarta
Suprayono dan Setyono,1993.Padi.Penebar Swadaya.Jakarta
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KAKAO DI DESA BORU KEDANG KECAMATAN WULANGGITANG KABUPATEN FLORES TIMUR
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH
TRY AMBESA
0804022597
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tujuan pembangunan dari sektor pertanian di antaranya adalah peningkatan produksi dan peningakatan peran petani sebagai produsen yang tangguh dan mampu untuk menyediaan cadangan pangan bagi konsumen secara berkelanjutan. Tujuan ini dapat terlaksana dan tercapai jika proses produksi serta penanganan panendan pasca panen dilakukan secara tepat dan baik oleh petani. Sektor pertanian mencakup enam sub sektor yaitu tanaman pangan, hertikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.
Sub sektor perkebunan memberikan peran tersendiri bagi perkembangan sektor pertanian di Indonesia. Secara spesifik tujuan pembangunan sektor perkebunan din Indonesia antara lain: (a) Untuk meningakatkan produksi komoditi pertanian baik dari segi kuantitas,kualitas,maupun kontinuitas penyediaannya dalam rangka mendorong peningkatan konsumsi langsung oleh masyarakat, memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri dan peningkatan ekspor non migas; (b) Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani; dan (c) Untuk meningkatkan kesempatan be kerja dan kesempatan berusaha.
Kakao (Theobroma cacao, L.) merupakan komoditi perkebunan yang penting bagi industry.Dikatakan demikian karena kakao merupakan bahan baku bagi industry cokelat.kakao juga merupakan salah satu komoditas perkebunan yang tergolong cukup potensial di Nusa Tenggara Timur (NTT). Permintaan terhadap komoditi ini terus saja meningkat baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri sehingga komoditi kakao memiliki nilai ekonomis dan mempunyai peranan yang cukup berarti bagi perekonomian petani kakao.
Kabupaten Flores Timur merupakan salah satu daerah penghasil kakao di NTT yang pengusahaannya tersebar di beberapa kecamatan. Sebagai salah satu daerah sentra produksi kakao di kabupaten Flores Timur adalah Kecamatan Wulanggitang. Luas areal tanaman kakao di Kecamatan Wulanggitang pada tahun 2002 adalah 644,89 Ha dan pada tahun 2003 meningkat sebesar 645,13 Ha. Sedangkan tingkat produksinya pada tahun 2002 adalah 96,127 ton dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 98,610 ton (Dinas Perkebunan Kab. Flores Timur ,2004).
Sejauh ini pola usahatani yang diterapkan oleh petani di Kecamatan Wulanggitang masih bersifat sederhana atau belum efisien dalam penerapan teknologi usahatani kakao sehingga berdampak pada hasil yang diperoleh. selain itu pula harga kakao yang beredar di pasar selalu berfluktuasi yang memungkinkan dampak tersendiri bagi keberlanjutan dari usaha kakao yang di usahakan oleh petani dengan luasan areal yang terus bertambah setiap tahun. Tanaman kakao sangat berperan dalam mendukung pendapatan rumah tangga petani di desa ini. Namun demikian belumj dilakukan suatu kajian mengenai komoditi ini. Dengan demikian peneliti merasa perlu melakukan penelitian ini dengan judul ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KAKAO DI DESA BORU KEDANG KECAMATAN WULANGGITANG KABUPATEN FLORES TIMUR”
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana gambaran pola usahatani kakao di desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang?
2. Berapa besar pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani kakao di desa Boru Kedang kecamatan Wulanggitang?
3. Sejauh mana kontribusi usahatani kakao terhadap pendapatan rumah tangga petani kakao di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang?
1.3. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan pola usahatani kakao di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang.
2. Mengestimasi besarnya pendapatan yang di peroleh petani dari usahatani kakao di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang.
3. Menghitung besarnya kontribusi usahatani kakao terhadap pendapatan rumah tangga di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang.
Kegunaan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Bagi pihak petani berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam hal penggunaan faktor-faktor produksi, pergantian tanaman, peremajaan dan kegiatan pasca panen.
2. Bagi pemerintah atau instansi terkait dalam menunjang pengembangan usahatani kakao, dalam hal pengambilan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan usahatani kaao di daerah setempat.
3. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi penelitian selanjutnya.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rujukan Penelitian
Selanjutnya hasil penelitian palit (1995), dalam penelitiannya pada UPP-PC unit Bola Kabupaten sikka, mengemukakan bahwa usahatani coklat petani peserta proyek PRPTE pada UPP-PC unit Bola Kabupaten Sikka hingga tahun ke-13 umur proyek (1993) tidak layak secara finansial ditinjau dari kriteria investasi: NPV=2.355.484,57; perbandingan manfaat dan biaya atau B/C Ratio= 0,8197 dan tingkat pengambilan internal (IRR) = 9,99% pada tingkat harga yang berlaku setiap tahun dengan discaun factor 12%. Penyebab kegagalan proyek yang mengakibatkan terlambatnya pengambilan kredit adalah peneliharaan kebun yang kurang diperhatikan oleh petani dan pelaksanaan yang kurang sesuai dengan perancangan proyek yang telah ditetapkan, seperti ketersediaan sarana produksi, pemilihan petan peserta proyek dan keterbatasan UPP-PC.
Hasil penelitian Ajang (2003) tentaang usahatani cengkeh menunjukan bahwa,produksi dan harga cengkeh di daerah penelitian cukup berfluktuasi menurut umur tanaman.Produksi cengkeh tertinggi diperoleh pada saat tanaman berumur >2o tahun dan setelah umur tersebut produksinya akan menagalmi kemunduran. Sedangkan harga cengkeh di daerah tersebut selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun yakni pada tahun 2001 berkisar antara Rp. 5.000 – Rp. 6.750/kg dan meningkat menjadi Rp. 60.000 – Rp. 75.000/kg.
2.2 Landasan Teoritis
Tinjauan Umum Tanaman Kakao
Tanaman kakao (Theobroma kakao, L.) termasuk warga theobroma suku dari Sterculiaceae yang banyak di usahakan oleh perkebun, perkebunan swasta dan perkebunan Negara.Tanaman kakao yang biasa dibudidayakan terdiri atas tiga jenis yaitu: 1) jenis Criollo, merupakan kakao bermutu tinggi dengan warna buah muda merah dan bila telah masak menjadi orange; 2) jenis Forastero, merupakan kakao bermutu rendah, kulit buah bnerwarna hijau atau merah; 3) jenis Trinitoria, merupakan hasil persilangan antara jenis Criollo dengan jenis Forastero.
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada etinggian 0 – 1000 meter dari permukaan laut, dengan curah hujan ideal berkisar antara 1.100 – 3.000 mm/tahun. Suhu yang ideal bagi pertanaman kakao adalah berkisar antara 30 – 32oC untuk suhu maksimum dan minimumnya 18 – 21oC, dengan kelembaban nisbih 50 – 60% (Syamshulbahri, 1996)
Menurut Siregar, Riyadi dan Nuraeni (2004), tanaman kakao berakar tunggang (radix primaria) dengan pertumbuhan akar bias sampai 8 meter ke arah samping dan 15 meter ke arah bawah. Tanaman kakao memiliki batang dengan dua macam percabangan yaitu cabang yang tumbuh ke atas (ortotrop) dan cabang yang tumbuhnya ke arah samping (plagitrop). Tanaman kakao dapat berbunga pada umur tiga tahun, tetapi belum menghasilkan buah yang maksimum arena bunga yang dihasilkan masih dalam jumlah yang relatif sedikit. Bunga tersebut muncul dari bekas ketiak daun baik pada batang maupun pada cabang. Buah kakao memiliki dua macam warna yaitu: 1) buah nuda berwarna hijau putih dan bila telah masak berwarna kuning.; 2) buah muda berwarna merah dan bila telah masak berwarna orange. Buah kakao dapat dipetik pada umur 5 – 6 bulan setelah pembunggaan. Tanda buah yang siap panen adalah bila buah digoncang-goncangkan akan berbunyi. Selanjutnya Susanto (1994), mengemukakan bahwa pemetikan buah harus menggunakan pisau yang tajam, agar bantalan bunga tidak mengalami kerusakan karena bantalan ini masih menghasilkan bunga pada musim berikutnya. Sehingga jika dalam luasan 1 Ha diusahakan tanaman kakao dengan jarak tanam 3 x 3 m, maka ada 1.100 pohon/ha. Dengan demikian maka jumlah produksi buah kakao per hektar adalah 55.000 – 132.000 buah/tahun.
Benih kakao dipilih dari buah yang masak dan besar dari pohaon yang lebat buahnya, demikian disemaikan pada bedengan yang terlindung dengan jarak tanam 5 cm setiap lubang. Setelah berakar kira-kira 15 hari, bibit dipindahkan pada polybag yang telah terisi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 3, dengan penyiraman yang dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Bibit kakao siap dipindahkan ke lahan tanaman bila kecambahnya telah mencapai ± 60 cm (berumur 6 – 8 bulan). Persiapan lahan dilakukan 2 – 3 bulan sebelum penanaman termasuk pembuatan lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Waktu tanam yang baik adalah awal musim hujan. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam perawatan tanaman perlu dilakukan seperti: (1) penyulaman, agar jumlah tanaman tidak berkurang; (2) penyiangan, untuk membersihkan gulma dan menghindari pesaingan akar terhadap air dan unsure hara yang dilakukan tergantung kepada banyaknya gulma di sekitar pohon kakao; (3) pemangkasan, dilakukan melalui empat fase: (a) fase muda dilakukan pada tanaman berumur 8 – 12 bulan dengan tujuan utama, cabang utama mengarah pada pembentukan pohon yang baik; (b) fase remaja, pada tanaman berumur 18 – 24 bulan dilakukan secara terus-menerus dengan membuang cabang-cabang yang tidak diingini; (c) fase dewasa, dilakukan pada tanaman yang telah berumur lebih dari 2 tahun yang pada prinsipnya disebut pemangkasan produksi, dan (d) pemangkasan rehabilitasi, untuk memperbaiki kualitas tanaman kakao. Pemangkasan pada fase rehabilitasi ini dilakukan ketika tanaman mulai menunjukkan gejala penurunan produksi. Penurunan produksi, umumnya pada umur setelah 15 – 17 tahun. Setelah itu produksi akan berangsur-angsur menurun dengan produksi sangat sampai tidak berproduksi.
2.3 Biaya Produksi
Menurut Hernanto (1989) biaya produksi merupakan biaya yang dilakukan oleh petani dalam proses produksi serta membawanya menjadi produk termasuk di dalamnya barang yang dibeli dan jasa yang dibayar di dalam maupan di luar usahatani. Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usahatani dapat dibedakan atas biaya tetap dan biaya variable. Soekartawi (1995) mendefinisikan biaya tetap sebagai biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya tetap meliputi sewa tanah, pajak, alat pertanian dan biaya penyusutan alat-alat. Biaya variable adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi. Termasuk dalam biaya variable antara lain biaya pupuk, biaya bibit, biaya panen, biaya pengolahan tanah dan biaya tenaga kerja.
2.4 Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, sedangkan penerimaan itu sendiri adalah perkalian antara produksi dengan harga jual (Soekartawi, 1995). Tingkat pendapatan petani merupakan focus dari setiap tujuan aktifitas usahatani, dan pendapatan tersebut menunjukkan tingkat tinggi rendahnya kemampuan modal usahatani. Tingggi rendahnya modal usahatani akan berpengaruh terhadap produksi, yang akhirnya kembali berdampak pada tingkat pendapatan petani. Sehingga pendapatan dapat dirumuskan secara matematis sebagai berikut :
NI = TR – TC
Dimana :
NI = Net Income (Pendapatan Bersih)
TR = Total Revenue (Total penerimaan)
TC = Total Cost (Total biaya)
2.5Kontribusi
Tualaka (2003) mengemukakan bahwa pemahaman dari peranan/kontribusi dari cabang usahatanimemberikan gambaran bahwa setiap cabang usahatani dalam memberikan sumbangan kepada pendapatan rumah tangga tentunya berbeda. Kontribusi dapat diartikan sebagai sumbangan nilai yang menunjukkan besarnya peranan dalam suatu system. Sehingga kontribusi usahatani kakao terhadap pendapatan rumah tangga petani atau penduduk setempat adalah sumbangan yang di terima petani dalam bentuk nilai produksi dari bentuk komoditi kakao yang diusahakannya. Besarnya nilai yang disumbangkan dari usahatani kakao terhadap keseluruhan yang diterima runah tangga petani dari kegiatan usahatani maupun kegiatan non usahatani. Lebih lanjut dikatakan bahwa kontribusi ini dapat diketahui melalui analisis input – output.
Untuk mengetahui nilai kontribusi, Soekartawi (1995) memformulasikannya dengan membandingkan besarnya nilai persentase yang diperoleh dari perhitungan rasio suatu kegiatan terhadap total pendapatan rumah tangga. Secara matematis konsep ini dapat diformasikan sebagai berikut :
X = Total Pendapatan Usahatani Kakao x 100%
Total Pendapatan Rumah Tangga
Dimana :
X = Kontribusi pendapatan usahatani kakao terhadap total pendapatan rumah tangga petani untuk
tahun 2005 (%)
METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran
Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis dan social yang tinggi, sehingga dengan demikian cukup strategis untuk dikembangkan dengan tujuan meningkatkan produksi dan produktifitas, melalui suatu pengelolaan yang efisien baik aspek budidaya maupun aspek ekonomi.Dalam pengusaha komoditi kakao, petani di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang telah menginvestasikan sejumlah modal berupa bibit, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan alat-alat pertanian. Dengan diinvestasikannya sejumlah modal tersebut, diharapkan dapat diperoleh sejumlah keuntungan dari pengusaha perkebunan kakao tersebut.
Pola usahatani yang bersifat sederhana yang diterapkan oleh petani di daerah tersebut menjadi salah satu faktor tersebut terhadap keuntungan yang diperoleh memiliki hubungan yang linear, dimana semakin baik pola pengusahaan yang diterapkan oleh petani maka keuntungan yang diperoleh pun akan semakin besar.
Oleh karena usahatani kakao tersebut merupakan investasi jangka panjang, maka keuntungan yang diperoleh akan dinikmati setelah beberapa tahun kemudian. Dengan demikian untuk megetahui keuntungan yang diterima oleh petani dari usahatani kakao selama lima tahun terakhir, maka perlu dilakukan analisis pendapatan.
Selain itu pula, oleh karena pendapatan yang diterima dari oleh petani dari pengusahaan kakao memberikan pengaruh tersendiri bagi pendapatan rumah tangganya, maka perlu untuk dilakukan perhitungan persentase kontribusi usahatani kakao terhadap total pendapatan rumah tangga untuk tahun 2005.
Secara skematis alur pemikiran tersebut adalah seperti gambar 1 berikut ini:
1111t
Kontribusi
Gambar 1
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Kedang Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur. Pengumpulan datanya akan berlangsung pada Bulan Januari 2011.
3.3. Metode Pengambilan Contoh
Desa Boru Kedang dipilih sebagai lokasi penilitian karena desa tersebut merupakan salah satu sentra produksi kakao di Kecamatan Wulanggitang ( Lamp.1 ).
Populasi dalam penilitian ini adalah petani ( kepala keluarga ) yang mengusahakan tanaman kakao. Untuk memilih petani digunakan metode Simple Random Sampling, yaitu sebanya 15% atau 30% Kepala Keluarga dari 192 Kepala Keluarga yang mengusahakan tanaman kakao yang berada di Desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitung.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penilitian ini adalah metode survei. Data yang dikumpulkan meliputi : data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani contoh. Data sekunder diperoleh dari instansi/ lembaga terkait yang relevan dengan penelitian ini.
3.5. Variabel Pengamatan dan Konsep Pengukuran
Variabel yang diamati dalam penelitian ini dan pengukurannya dalah sebagai berikut:
1. Identitas responden yang meliputi:Umur (thn),tingkat pendidikan formal dan non formal,jumlah tangungan keluargan dan pengalaman berusahatani.
2. Lahan adalah luas lahan yang digunakan dalam usahatani kakao,diukur dalam satuan hektar (Ha).
3. Populasi tanaman adalah pahon kakao yang sudah atau belum berproduksi(phn).
4. Umur tanaman kakao terdiri dari umur teknis dan umur ekonomis (thn).
5.Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan setelah tanaman menghasilkan yang meliputi biaya pemeliharaan,biaya panen dan pasca, yang diukur dalam rupiah per tahun (Rp/thn).
6.Biaya Overhead adalah biaya yang secara langsung dikeluarkan perusahan diantaranya pajak tanah,yang dihitung 10% dari total biaya dan pajak lainnya,yang diukur dalam rupiah per tahun (Rp/thn).
7.Produksi adalah jumlah output yang dihasilkan tanaman kakao berupa biji kering kakao yang diukur dalam satuan kilogram(kg).
8.Harga produk adalah harga jual biji kering kakao, yang diukur berdasarkan harga berlaku di lokasi penelitian dalam satuan rupiah per kilogram(Rp/kg).
9.Penerimaan adalah jumlah produksi kakao dikalikan dangan harga berlaku di lokasi penelitian,yang diukur dalam rupiah per tahun(Rp/thn).
10.Pendapatan adalah pendapatan dari usaha perkebunan kakao.Selisih antara penerimaan dengan pengeluaran total usahatani kakao tahun 2005, yang diukur dalam rupiah per tahun(Rp/thn).
11.Total pendapatan rumah tangga yang diterima petani dari berbagai cabang usahatani untuk tahun 2005 yang diukur dalam rupiah(Rp).
12.Kontribusi adalah sumbangan yang diterima dari petani dalam bentuk nilai produksi dari komoditi kakao tahun 2005 yang diukur dalam persen(%).
3.6.Model dan Analisis Data
Data yang diperoleh di lapangan diedit,ditabulasi kemudian dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
Untuk menjawab tujuan pertama akan digunakan analisis deskriptif,yang didasarkan pada informasi yang diperoleh dan hasil analisis data.
Untuk menjawab tujuan kedua dilakukan estimasi pendapatan yang diterima dalam usahatani kakao yang secara matematis model tersebut diformulasikan menurut Soekartawi(1996)adalah sebagai berikut:
NI = TR – TC
Dimana:
NI = Net Income(Pendapatan Usahatani Kakao)
TR = Total Revenue(Total Penerimaan Usahatani Kakao Tahun 2005, yang diperoleh
darihasil kali antara harga komoditi dengan total produksi baik yang dijual, maupun
yang tidak dijual
TC = Total Cost(Total Biaya Usahatani Kakao untuk tahun 2005,yang merupakan jumlah
biaya produksi tetap,biaya tidak tetap dan biaya overhead sela,a tahun 2005)
Untuk menjawab tujuan ketiga dilakukan analisis perbandingan antara total pendapatan yang diterima dari usahatani kakao terhadap total pendapatan rumah tangga petani yang secara matemati model tersebut diformulasikan sebagai berikut:
X = Total Pendapatan Usaha Tanix 100%
Total Pendapatan rumah tangga
Dimana :
X = kontribusi pendapatan usahatani kakao terhadap total pendapatan rumah tangga petani
untuk tahun 2005 ( % )
DAFTAR PUSTAKA
Ajang dionosius, 2003, Kajian Ekonomi Usahatani Cengkeh(Eugenia Aromatica,OK) di Kelurahan Mando Sawu Kecamatan Paco Ranaka Kabupaten Manggarai skirpsi Faperta Undana, kupang.
Danas Perkebunan Flores Timur, 2006 , laporan tahunan.
Firman A.B ., dan Sirait S.M., 1990, Perencanaan dan Evaluasi suatu sistem untuk proyek pembangunan, penerbit Bina Aksara, Jakarta
Gitingger Prince J., 1990, Evaluasi Proyek, Rineka Cipta, Jakarta
Hermanto F., 1989, lmu ushatani, Swadaya, Jakarta.
Kadariah, dkk., 1978, Pengantar Evaluasi Proyek, Lembaga Penelitien Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia , Jakarta
MPR-RI,1999, Garis – Garis besar haluan Negara,sekretariat MPR-RI,Jakarta
Nasarudin Usman,1988, Pedoman praktis BudidayaTanaman Perkebunan, PD.Mahkota,Jakarta
Siregar,H. S. T.,dan Riwyadi S. Nurreni L.,1998, Cokelat, pembudidayaan, Pengolahan dan Pemasaran, Penebar Swadaya. Jakarta.
Soekarwi, 1996, Panduan Membuat Usulan Proyek Pertanian dan Pedesaan, Penerbit Andi, Yokyakarta.
SISTEM PRODUKSI SAOS SAMBAL DAN SEHAT USAHA PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA “GAPOKTAN TURATANA” DI PRAIKARARA DESA ANAKALANG KABUPATEN SUMBA TENGAH PROPOSAL RENCANA PENELITIAN
OLEH :
UMBU JOKA
08 04 02 2598
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010
PENDAHULUAN
Latar belakang
Memaknai sebuah peran pembangunan bisa ditinjau dari banyak sisi atau sudut pandang, banyak faham yang dikemukakan oleh para ahli.Masing – masing ahli datang dengan indikator yang mencerminkan tentang penyebab dan aplikasi dari teori yang sebenarnya telah menjadi konsumsi sehari – hari di lingkungan masyarakat.Indonesia sebagai Negara berkembang, Indonesia pada waktu pemerintahan Orde Baru telah mencoba menerapkan Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJP I) yang berlangsung mulai dari tahun 1969 – 1994 dengan tujuan membangun sebuah struktur ekonomi yang seimbang, dimulai dari sektor pertanian yang tangguh sebagi sektor primer, industri yang maju sebagai sektor sekunder, dan jasa. Tujuan dari pembangunan nasional ini sudah dituangkan dalam GBHN (Garis - Garis Besar Haluan Negara).
Sebagai Negara berkembang, pada PJP I pemerintah merancangkan bahwa di akhir Repelita V Indonesia sudah bisa mencapai tahap ketiga dalam teori Rostow yaitu tahap “Takeoff” atau tinggal landas secara ekonomi, ternyata hal tersebut masih belum bisa tercapai karena banyak faktor yang mempengaruhi selain halangan krisis ekonomi yang kemudian berkembang menjadi krisis moneter yang cukup memperburuk kondisi perekonomian Indonesia. Salah satu permasalahan yang paling krusial yaitu dalam hal pembangunan pertanian, untuk dapat mencapai pertanian yang tangguh seperti yang ingin dituju pada PJP I, kita masih terhalang yaitu perebutan sektor pertanian dan sektor – sektor lain yang berbasis sumberdaya alam antara kepentingan pasar dan kepentingan politik. Kebijakan ekonomi dan politik sering tidak bersahabat dengan sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung perekonomian bangsa karena sebagian besar penduduk Negara ini bergantung pada pekerjaan di sektor ini, selain itu sektor ini terbukti sebagai sektor yang paling tahan uji pada saat krisis melanda Negara ini medio 1997 – 1998.
Peralihan dari pendekatan sektor pertanian yang bersifat pendekatan usahatani ke arah pertanian yang pendekatan agribisnis dirasa menjadi salah satu solusi dalam mendukung sektor industri yang berbasis komoditi pertanian.Pengertian agribisnis sendiri dalam arti yang dipersempit adalah perdagangan atau pemasaran hasil pertanian. Sedangkan menurut (Downey dan Erickson, 1989 dalam Sagran 2009), agribisnis meliputi seluruh bahan masukkan usahatani, produk yang memasok bahan masukkan usahatani yang terlibat dalam bidang produksi dan pada akhirnya menangani pemrosesan, penyebaran, penjualan, baik secara borongan maupun penjualan eceran produk kepada konsumen akhir.
Agribisnis mencakup subsistem sarana produksi atau bahan baku di hulu, proses produksi biologis ditingkat bisnis atau usahatani, aktivitas transformasi berbagai fungsi bentuk (pengolahan), waktu (penyimpanan atau pengawetan), dan tempat (pergudangan) di tengah, serta pemasaran dan perdagangan di hilir, dan subsistem pendukung lainnya seperti jasa, permodalan, perbankan dan seagainya (Arifin, 2004). Sebagai motor penggerak pembangunan pertanian, agribisnis diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan pertanian daerah baik dalam sasaran pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas nasional (Soekartawi, 2001).
Agroindustri merupakan salah satu subsitem dari agribisnis selain input, usahatani, pemasaran, dan kelembagaan sebagai penunjang. Agroindustri merupakan pengolahan bahan baku yang berasal dari tumbuhan dan hewan dengan berbagai bentuk dan perlakuan fisik dan kimia, penyimpanan, pengawasan, sampai pemasaran yang berdampak langsung pada peningkatan nilai tambah, kualitas hasil, penciptaan tenaga kerja, peningkatan produksi dan peningkatan nilai tambah yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan (Leki,2000 dalam Sagran 2009).
Kegiatan agroindustri dalam skala yang lebih kecil atau bisa disebut Homeindustri yang lebih familiar dengan istilah industri rumah tangga, adalah industri yang mempekerjakan satu sampai empat orang tenaga kerja dalam mengelola kegiatannya (BPS, 2002). Pada umumnya industri ini digeluti demi menambah pendapatan keluarga, tidak bisa dipungkiri peran industri rumah tangga dengan skala kecil ini cukup mendorong perubahan di sektor pertanian, dan juga bisa mendatangkan nilai tambah ekonomis yang tinggi, hal ini menyebabkan industri skala kecil ini berkembang dengan cukup pesat di pedesaan maupun di perkotaan (kususnya di daerah perferi atau pinggiran kota yang dekat dengan sentra produksi pertanian atau peternakan).
Industri rumah tangga yang digeluti oleh para petani yang tergabung dalam “GAPOKTAN TURATANA” merupakan salah satu pendatang baru dalam percaturan industri skala kecil yang berbasis pertanian. Industri rumah tangga ini memanfaatkan komoditi seperti tomat dan cabai yang kemudian dalam kegiatan dalam kegiatan produksinya diolah menjadi sambal tomat.
Industri ini merupakan salah satu industri rintisan dari BP2KP (Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan) Kabupaten Sumba Tengah, melalui salah satu program kerjanya BP2KP mengadakan pelatihan teknikdan manajemen serta kemitraan terhadap para petani – petani tomat dan cabai di Praikarara. Pembimbingan tidak hanya berhenti pada kegiatan onfarm tetapi kemitraan ini berlanjut dengan pembentukan industri rumah tangga yang mengolah cabai dan tomat hasil produksi petani dalam kelompok – kelompok tani di daerah itu menjadi saos sambal serta manajemen usaha dan pemasaran produk pasaca panen dan produksi. BP2KP Sumba Tengah juga menjalin kemitraan dengan gabungan kelompok tani lainnya di sekitar Kabupaten Sumba Tengah dalam mengembangkan produk – produk pertanian agar memiliki tambahan keunggulan baik secara komparatif dan kompetitif.
Menilik dari usia industri rumah tangga ini yang masih muda tetapi berkat pendampingan dari penyuluh – penyuluh pertanian BP2KP maka menjadi menarik untuk peneliti mengadakan peneltian tentang sistem produksi, kondisi keuangan industri rumah tangga ini, dan kriteria sehat usahanya.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana proses produksi sambal tomat pada industri rumah tangga “ GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah?
Bagaimana kondisi keuangan industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah?
Bagaimana prospek pengembangan usaha pada industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah?
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
Mendeskrisikan proses produksi sambal tomat pada industri rumah tangga “ GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah.
Mendeskripsikan kondisi keuangan industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah.
Mengetahui prospek pengembangan usaha pada industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah.
Penelitian ini diharapkan berguna :
Sebagai bahan informasi bagi pengelola industri rumah tangga “ GAPOKTAN TURA TANA” di Desa Praikarara Kabupaten Sumba Tengah dalam merencanakan pengembangan usahanya.
Sebagai bahan informasi bagi pemerintah.
Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa untuk penelitian selanjutnya.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rujukan Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian Chrisminingsih (2000) tentang pola kegiatan Agroindustri Tahu untuk Mendukung Nilai Tambah Komoditas Kedelai Di Kota Kupang, menunjukkan bahwa secara ekonomis agroindustri tahu tempe di Kelurahan Bakunase mencapai tingkat efisien, karena penggunaan biaya yang diperoleh dari nilai perbandingan pendapatan kotor dengan total biaya adalah menguntungkan.
Adu (2005) dalam penelitian tentang kajian Ekonomi Produk Kecap Pada Industri Rumah Tangga “Lestari” Di Kelurahan Fatululi Kota Kupang menyatakan bahwa pengolahan kecap pada industri rumah tangga “Lestari” sejauh ini masih sederhana.Hal ini dapat terlihat dari penggunaan peralatan produksi yang masih sederhana, seperti nyiru, saringan, wajan, pisau, kompor, drum, corong aluminium, dan dacing timbangan. Peralatan yang digunakan sejak tahun 1999 – 2003 tetap sama tetapi mengalami perubahan dalam jumlah. Struktur organisasi yang belum jelas pembagian tugas untuk setiap tenaga kerja, dan juga proses produksi kecap yang masih dilakukan secara manual oleh tenaga kerja. Tenaga kerja yang bekerja pada industri rumah tangga ini berjumlah 2 orang semuanya pria dan tidak memiliki pembagian tugas yang jelas sehingga semua kegiatan dilakukan secara bersama – sama oleh semua tenaga kerja. Secara ekonomi usaha ini menguntungkan, namun cenderung menurun, hal ini ditunjukkan oleh R/C ratio yang diperoleh yaitu : tahun 1999 sebesar 1,915; tahun 2000 sebesar 1,629; tahun 2001 sebesar 1,628; tahun 2002 sebesar 1,416 dan tahun 2003 sebesar 1,404.
2.2. Tinjauan Teoritis
2.2.1. Industri Rumah Tangga (Home Industri)
Industri rumah tangga (Home Industri) merupakan bagian dari industri kecil yaitu industri yang diusahakan terutama untuk menambah pendapatan keluarga. Industri rumah tangga mencakup kegiatan usaha yang mengolah bahan baku yang berasal dari tanaman atau ternak.
Mubyarto (1994) menyatakan bahwa tujuan untuk memajukan industri kecil bukanlah semata – mata untuk meningkatkan output atau nilai tambah sektor industri tetapi untuk meningkatkan pendapatan bagi penduduk kelompok miskin di pedesaan.
BPS (2002) Industri rumah tangga adalah industri yang mempekerjakan satu sampai empat orang dengan batasan modal sebesar Rp. 500.000.000,00 pertahun.
2.2.2. Proses Produksi Saos Sambal
Harus ada teori proses produksi
Menurut Mulyadi (1986) produksi adalah pengubahan bahan - bahan dari sumber – sumber menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Hasil itu dapat berupa barang atau jasa.Dalam artian tersebut, produksi merupakan konsep yang lebih luas daripada pengolahan (manufaktur) karena pengolahan ini hanyalah sebagai bentuk khusus dari produksi.
Partadireja (1999) menyatakan produksi adalah segala kegiatan untuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda atau segala kegaiatan yang ditujukan untuk memuaskan orang lain melalui pertukaran. Sehingga proses produksi adalah setiap proses untuk mengahsilkan barang dan jasa.
Swastha (1999) menyatakan produksi adalah pengubahan bahan – bahan dari sumber – sumber (tenaga kerja, bahan – bahan dan dana) menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Jadi proses produksi adalah suatu kegiatan yang akan melibatkan pengubahan dan pengolahan berbagai macam sumber menjadi barang atau jasa yang akan dijual.
Samuelson (1996) Dengan memanfaatkan faktor – faktor produksi seperti modal, tenaga kerja dan manajemen secraa efektif dan efisien yaitu dengan meminimalkan biaya – biaya sehingga dapat diperoleh keuntungan yang akan berdampak positif bagi perkembangan usaha. Faktor – faktor produksi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Modal
Modal adalah bentuk kekayaan, baik berupa uang maupun barang yang digunakan untuk mengahsilkan sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu proses produksi (Soekartawi, 2002 dalam Sagran, 2009). Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usaha.
Tenaga Kerja
Tenaga kerja menurut soehardjo dan Patong (1978) merupakan faktor produksi kedua dalam proses produksi pertanian. Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja diartikan sebagai daya manusia untuk melakukan usaha yang diajalankan untuk memproduksi benda – benda.
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk.Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsuang adalah semua karyawan yang secara langsung ikut sertamemproduksi produk yang jasanya dapat diusut secara langsung pada produk yang dihasilkan, sedangkan tenaga kerja tak langsung adalah tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada produk yang dihasilkan (Mulyadi,1999).
Manajemen
Manajemen usaha adalah kemampuan pengusaha dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan serta mengawasi faktor – faktor produksi dalam setiap kegiatan secra efektif dan efisien agar kegiatan apapun yang dilakukan dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai (Swastha dalam Ibnu,2000).
Dari pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” yaitu dimana tomat dan cabai dapat ditingkatkan penggunaannya menjadi saos sambal dan memiliki nilai tambah yang ekonomis yang berbeda dibandingkan dengan kedelai yang tak diolah.
Dapat ditingkatkan penggunaannya menjadi saos sambal dan memiliki nilai tambah yang ekonomis yang berbeda dibandingkan dengan cabai dan tomat yang tidak diolah.
Persyaratan Saos atau Sambal berdasarkan SNI
Persyaratan mutu saos sambal mencakup:
Keadaan (bau dan rasa : normal, khas).
Protein ( n x 6,25) (m : min, 2,5% b/b, a : min. 40% b/b)
Padatan terlarut (min. 10% b/b)
Pemanis buatan, NaCl (m : min .3% b/ba, : min. 5% b/b)
Sakarosa (m : min.40% b/b)
Pengawet, (benzoat : maks. 600 mg/Kg, metal p-hidroksibenzoal maks. 250 mg/Kg, propel p- hidroksibenzoat : maks. 250 mg /Kg)
Pewarna tambahan (sesuai SNI 01-0222-1995)
Cemaran logam, (pb ; maks. 1,0 mg/Kg, cu : maks. 30,0 mg/Kg, Zn : maks. 40,0 mg/ Kg, Sn : maks. 40,0 mg/Kg, hg : maks 0,05 mg/Kg).
Arsen, as (maks. 0,5 mg/Kg)
Cemaran mikroba, e-coli :<3 apm/g, kapang/khamir : maks. 50 kol/g).
2.2.3 Biaya Produksi
Menurut Soekartawi (1997), biaya-biaya yang dikeluarkan dapat dibedakan dalam beberapa jenis yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap ( Fixed cost) yaitu biaya relatif tetap jumlahnya dan tetap dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil produksi.
Biaya produksi terdiri dari 3 elemen yaitu:
Biaya Bahan Baku
Merupakan biaya-biaya secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu macam produk jadi yang siap dipasarkan atau diserahkan kepada konsumen.
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Merupakan biaya bagi para tenaga kerja yang langsung ditempatkan dan didayagunakan dalam menangani segala peralatan produksi sehingga produk dari usaha itu dapat terwujud.
Biaya Overhead Pabrik
Merupakan biaya-biaya produksi selain biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung yang terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya asuransi gedung, mesin, kendaraan, serta biaya listrik dan biaya air.
2.2.4. Kriteria Sehat Usaha
Kriteria yang digunakan untuk mengetahui sehat tidaknya suatu usaha yang dilakukan dapat dilihat melalui tiga aspek yaitu:
Likuiditas
Likuiditas adalah hubungan dengan kemampuan suatu badan usaha untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi/mempunyai kemampuan membayar dalam jangka pendek untuk semua hutang-hutangnya.Suatu badan usaha yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansil dalam jangka pendek. Suatu badan usaha dianggap memiliki kemampuan membayar semua hutangnya dalam jangka pendek apabila likuiditasnya berkisar antara 150%-200% dengan rumus (Munawir, 1983):
Rasio Sekarang = (Aktiva Lancar)/(Hutang Lancar) X 100%
Solvabilitas
Solvabilitas adalah kemampuan suatu badan usaha untuk memenuhi segala kewajiban finansil pada saat badan usaha tersebut dilikuidasi. Dengan kata lain kemampuan badan usaha untuk membayar semua hutang-hutangnya baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Badan usaha yang solvable berarti badan usaha tersebut mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya, tetapi tidak dengan sendirinya bahwa badan usaha tersebut likuid. Suatu badan usaha dianggap solvable apabila mencapai solvabilitas minimal 100% dengan rumus (Munawir, 1983) :
Rasio Modal dengan Aktiva = (Modal sendiri)/(Total aktiva) X 100%
Rentabilitas
Rentabilitas menunjukan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba. Atau dengan kata lain kemampuan badan utuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Cara untuk menilai rentabilitas bermacam-macam tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan digunakan. Untuk menghitung rentabilitas dengan cara membandingkan laba usaha dengan modal sendiri.
Rentabilitas modal sendiri= (Laba Bersih (sesudah pajak))/(Modal Sendiri) X 100%
2.2.5 Jenis-Jenis Harga Pokok
Harga adalah satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan (Kotler, 1992).
2.2.5.1 Metode Harga Pokok Pesanan
Metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.
2.2.5.2 Metode Harga Pokok Proses
Metode ini produksi dikumpulkan untuk setiap proses dalam jangka waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam proses tertentu, selama periode tertentu, dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan (Mulyadi, 1999).
Penelitian ini dilakukan metode harga pokok proses karena metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produk perusahaan/industri yang berproduksi massa, karakteristik produksinya adalah sebagai berikut:
Produk yang dihasilkan berupa produk standar.
Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.
METODE PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Industri rumah tangga “ Gapoktan TuraTana” merupakan satu-satunya industri rumah tangga di Kota Kupang yang mengolah kecap dengan menggunkan bahan baku gula merah dan kedelai dengan label “Tura Tana”. Saos sambal yang dikonsumsi ini memiliki serangkaian proses yang sangat mempengaruhi produksi Saos sambal. Industri rumah tangga ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas.Sedangkan dari segi kuantitas maka industri rumah tangga ini harus mampu berproduksi secara maksimal untuk memenuhi permintaan konsumen.
Untuk menghasilkan produk saos sambal dibutuhkan kombinasi dari berbagai faktor produksi seperti bahan baku, bahan penolong, modal, tenaga kerja, pengolahan, teknologi maupun manejemen yang berperan sebagai input produksi. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi kontiunitas produksi yang akan berdampak pada pemasaran yang luas. Perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, apabila pemimpin perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, apabila pemimpin perusahaan yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses produksi. Sangat cermat dalam melakukan pengaturan dan penggunaan terhadap keseluruhan biaya yang terjadi sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan.
Industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” selama ini sudah menyusun laporan keuangan, akan tetapi masih bersifat sederhana belum dapat diketahui apakah usaha yang dijalankan sehat atau tidak, karena perlu dilihat dari aspek likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas pada tiap akhir pembukuan. Bila dalam posisi sehat usaha maka akan memiliki peluang untuk perluasan produksi dan perluasan usaha. Sehingga dengan melihat aspek diatas, maka pengusaha dapat mencapai tujuannya yaitu untuk mengembangkan usahanya.
Bertolak dari uraian tersebut, maka kerangka pemikiran yang dimaksudkan dapat digambarkan pada skematis sebagai berikut :
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada industri rumah tangga “ GAPOKTAN TURA TANA”, di Praikarara Desa Anakalang Kabupaten Sumba Tengah pada bulan Desember 2010 hingga bulan Januari 2011.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode studi kasus dengan mempertimbangkan keunikan dari industry rumah tangga ini yaitu input produksi yang dihasilkan sendiri oleh kelompok – kelompok tani yang bernaung di bawahnya dan proses pengelolaan dibantu oleh tenaga penyuluh dari BP3KP Kabupaten Sumba Tengah .Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pemilik industri rumah tangga, pengamatan langsung pada industri rumah tangga dengan berpedoman pada berbagai catatan keuangan perusahaan dan wawancara dengan para pekerja yang menjadi responden, berdasarkan daftar pertanyaan yang diberikan.Sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi yang berhubungan dengan penelitian yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT dan Badan Pusat Statistik NTT serta BP2KP (Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan) Kabupaten Sumba Tengah.
Pengamatan dan Konsep Pengukuran
Identitas responden pada industri rumah tangga” GAPOKTAN TURA TANA” yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan formal dan non formal, lamanya usaha dan pengalaman mengelola industri rumah tangga.
Sejarah berdirinya industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA”.
Proses produksi yaitu urutan kegiatan yang dilakukan mulai dari bahan baku sampai menjadi saos sambal.
Sumber dan asal bahan baku yaitu total Cabai merah dan Tomat yang digunakan untuk setiap proses produksi (Kg).
Jumlah bahan baku yaitu total Cabai merah dan tomat yang digunakan untuk setiap proses produksi (Kg).
Biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi (Rp).
Biaya bahan baku yaitu harga perolehan bahan baku yang diolah dalam setiap proses produksi (Kg).
Jumlah bahan penolong yang digunakan untuk setiap proses produksi (Kg, ikat).
Jumlah tenaga kerja langsung yaitu jumlah tenaga kerja yang langsung berhubungan dengan proses produksi (Orang).
Biaya tenaga kerja langsung yaitu jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja yang langsung terlibat dalam proses produksi (Rp).
Biaya overhead pabrik yaitu semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung (Rp).
Volume penjualan, berapa banyak saos sambal yang terjual (Botol).
Jumlah penjualan yaitu jumlah keseluruhan produksi yang terjual (Botol).
Harga jual adalah harga yang ditetapkan oleh industri rumah tangga “GAPOKTAN TURA TANA” (Rp/ Botol).
Modal usaha yaitu besarnya modal yang digunakan untuk memulai usaha (Rp).
Penerimaan adalah sejumlah uang yang diperoleh industri rumah tangga “ GAPOKTAN TURA TANA” dari hasil penjualan (Rp).
Kriteria sehat usaha, dipergunakan untuk mengetahui sehat tidaknya suatu usaha yang dilakukan.
Likuiditas adalah berhubungan dengan kemampuan suatu badan usaha untuk memenuhi kewajiban finansilnya (%).
Solvabilitas adalah kemampuan suatu badan usaha untuk memenuhi segala kewajiban finansilnya pada saat badan usaha tersebut dilikuidasi (%).
Rentabilitas menunjukan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba (%).
Rasio modal dengan aktiva merupakan perbandingan antara modal sendiri dengan total aktiva (%).
Rasio modal dengan aktiva merupakan perbandingan antara modal sendiri dengan total aktiva (%).
Rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri (%).
Modal sendiri adalah sumber biaya yang berasal dari dalam industri rumah tangga dalam hal ini pemilik (Rp).
Aktiva lancar yaitu semua jenis kekayaan usaha yang dapat dituangkan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun(Rp).
Hutang lancar merupakan semua jenis hutang yang harus dibayar dalam kurun waktu kurang dari satu tahun (Rp).
Model dan Analisis Data
Data yang diperoleh dikumpulkan, ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan :
Untuk menjawab tujuan pertama analisis deskriptif yaitu dengan menjelaskan sistem produksi saos sambal Tura Tana.
Untuk menjawab tujuan kedua tentang kondisi sehat usaha industri rumah tangga GAPOKTAN TURA TANA digunakan analisis ratio menurut Munawir (1983) dengan formulasi sebagai berikut:
Rasio Likuiditas
Rasio sekarang = (Aktiva Lancar)/(Hutang Lancar) X 100%
Rasio Solvabilitas
Rasio Modal dengan Aktiva = (Modal Sendiri )/(Total Aktiva) X 100%
Rasio Rentabilitas
Rentabilitas modal sendiri = (Laba Bersih (sesudah pajak))/(Modal sendiri ) X 100%
Dan untuk mengetahui Aset dan laba pengusaha industri Saos Sambal melalui neraca dan laporan rugi laba tiap periode sebagai berikut (Mulyadi,1999):
Industri Saos Sambal “ GAPOKTAN TURATANA”
Neraca per…………….
AKTIVA
Aktiva Lancar (A)
Kas xx
Surat berharga xx
Piutang dagang xx
Persediaan barang dagang xx
Persediaan barang habis pakai xx
Biaya dibayar dimuka xx
Pendapatan diterima dibelakang xx
Total Aktiva Lancar (A) xx
Investasi jangka panjang
Investasi pada PT A xx
Investasi pada PT B xx
Total Investasi jangka panjang xx
Aktiva Tetap (B)
Tanah xx
Gedung xx
Akumulasi penyusutan xx
xx
Kendaraan xx
Peralatan xx
Akumulasi penyusutan xx
xx
Total Aktiva Tetap (B) xx
Total Aktiva (A+B) xx PASSIVA
Hutang Lancer (A)
Hutang Wesel xx
Hutang Dagang xx
Gaji Dibayar Dibelakang xx
Total Hutang Lancar (A) xx
Hutang Jangka Panjang (B)
Hutang Hipotik xx
Hutang Obligasi xx
Total Hutang Jangka Panjang (B) xx
Modal (C)
Modal pemilik xx
Total Passiva (A+B+C) xx
Industri Saos Sambal “Gapoktan TuraTana”
Laporan Rugi Laba
Untuk Periode……………………
Hasil penjualan (harga jual per satuan x volume produk yang dijual) xx
Persediaan produk jadi awal xx
Persediaan produk jadi dalam proses xx
Biaya produksi:
Biaya bahan baku sesungguhnya xx
Biaya tenaga kerja sesungguhnya xx
Biaya overhead sesungguhnya xx +
total biaya produksi xx +
xx
Persediaan produk dalam proses akhir xx –
Harga pokok produksi xx +
Harga pokok produk yang tersedia untuk dijual xx
Persedian produk jadi akhir xx –
Harga pokok produk yang dijual xx-
Laba Bruto xx
Biaya nonproduksi:
Biaya pemasaran xx
Biaya atministrasi umum xx +
Total biaya nonproduksi xx +
Laba bersih sebelum pajak (pajak usaha) xx
Perhitungan biaya penyusutan menurut Bambang dan Kartasapoetra (1992), adalah dengan menggunakan metode garis lurus dengan nilai sisa (ER) = 0. Dimana nilai penyusutan = YV, Harga beli aktiva tetap = CV dan periode atau umur ekonomis = P. secara sistematis dirumuskan sebagai berikut :
YV = (CV-ER)/P
Untuk menjawab tujuan ketiga maka dibuat simulasi pengembangan usaha dengan dua skenario yaitu ( harus butuh data yang lebih baru...2000-an ke atas)
Asumsi kenaikan produksi 2 kali lipat dengan adanya kenaikkan biaya produksi dan kenaikan harga produk.
Asumsi kenaikan produksi 2 kali lipat dengan asumsi harga produk meningkat dan harga produksi tetap.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Bustanul, Dr. 2004. Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia.Penerbit PT. kompas Media Nusantara. Jakarta.
Badan Pusat Statistik.2007.Statistik Pertanian NTT. Provinsi NTT
Leki, Silverius. Pengantar Agribisnis. Kerjasama IAEUP – LPIU Undana dengan IAEUP – LPIU IPB. Bogor
Mubyarto. 1993. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.
Mulyadi. 1999. Akutansi Biaya Edisi 5. Penerbit Aditya Media.Yogyakarta.
Sagran, J. 2009. Sistem Produksi Kecap Manis Raja Sapidan Sehat Usaha pada Industri Rumah Tangga “Lestari Indah” di Kelurahan Fatululi Kecamatan Oebobo Kota Kupang.Skripsi pada FAPERTA Undana.Kupang.
Soekartawi.2002. Ekonomi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi.1994. Pembangunan Pertanian.Penerbit PT. Raja Gravindo Persada. Jakarta.
Soekartawi.2004. AGRIBISNIS Teori dan Aplikasinya. Rajawali Press, Jakarta.
Swastha, B dan Sukotjo. 1999. Pengantar Bisnis Modern. Fakultas Ekonomi UGM. Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Rabu, 05 Oktober 2011
TUGAS EKONOMI MANAJERIAL “ ANALISIS RESIKO”
Keputusan Yang Mengandung Resiko Dan Ketidakpastian
Apabila suatu perusahaan dalam situasi yang tidak menentu dan keputusan yang harus diambil berkaitan dengan aliran kas untuk masa yang akan datang maka diperlukan analisis present value (PV) dan analisis expented present value (EPV). Untuk membantu analisis multiple periode EPV digunakan pohon keputusan yang menyajikan konsekuensi biaya dan penerimaan setiap keputusan sehingga semua scenario dapat diperhitungkan dari hasil keputusan yang diambil. Perlu diperhatikan bahwa selalu ada resiko bagi setiap keputusan alternative dan juga cara pengukurannya. Dalam hal ini perlu adanya analisis resiko dalam proses pengambilan keputusan.
Pohon Keputusan Dan Analisis EPV
Analisis EPV diperlukan apabila keputusan yang dibuat mempunyai implikasi terhadap biaya dan penerimaan pada periode sekarang dan setidak-tidaknya satu periode yang akan datang. Analisis akan menjadi kompleks apabila juga mengandung distribusi probabilitas dari hasil setiap periode, sebaba probabilitas hasil periode kedua mempunyai joint probabilitas. Poho keputusan akan memberikan fasilitas untuk menganalisis EPV karena alat ini akan menyebarkan dari keputusan seperti cabang pohon, dan mempermudah memperhtungkan joint probabilitas dari keputusan yang telah diambil.
Pohon keputusan menunjukan hasil yang diharapkan pada tahun pertama dan kedua setelah keputusan dibuat. Pada table diatas harga mesin besar Rp. 100 juta dan harga mesin kecil Rp. 50 juta, untuk menentukan mesin mana yang akan dibeli maka manajer harus mengevaluasi EPV untuk setiap alternative . untuk menganalisis EPV perlu diketahui probabilitas setiap alternative, yaitu probabilitas bahwa permintaan pasar tinggi sebesar 0,6 dan terendah 0,4. Pada tahun kedua probabilitas tertinggi 0,7 dan terendah 0,3. Di yhitung pada table diatas:
Analisis Resiko Keputusan Alternative
Dengan mengetahui adanya tingkat resiko dari setiap keputusan alternative maka kita akan selalu dapat memperhitungkan resiko dari keputusan yang kita ambil.
Tingkat resiko dan ketidakpastian
Resiko untuk setiap keputusan tertentu diartikan sebagai sebaran hasil. Secara sederhana sebaran hasil dapat ditentukan dengan melihat hasil yang paling kecil hingga yang paling besar. Jika jarak antara nilai hasil yang paing kecil dengan yang paling besar cukup jauh maka hal itu memperlihatkan bahwa keputusan yang diambil mempuyai resiko tinggi. Untuk mengukur resiko dari keputusan alternative tersebut dilakukan dengan membandingkan sebaran hasil yang ungkin terjadi.
Standar deviasi distribusi probabilitas
Standar deviasi dari distribusi probabilitas adalah penyimpangan rata-rata dari semua hasil yang mungkin diharapkan. Deviasi dari nilai yang diharapkan dibobot dengan probabilitas terjadinya hasil terebut. Karena yang dicari adalah standar deviasi maka tanda negatif maupun positif diabaikan, oleh karena itu nilai yang kita cari adalah nilai absolutnya. Untuk menghindari plus dan minus, selisih penyimpangan tersebut dikuadratkan. Rumus yang digunakan adalah :
Dengan menggunakan rumus diatas maka sandar deviasi merupakan akar dari varian.
Risk averson, risk preference, dan risk neutrality
Risk aversion
Risk averion merupakan ketidakpuasan psikis sebagai akibat adanya ketidakpastian, yang digambarkan dngan adanya sebaran hasil yang mungkin terjadi dpandang sebagai ketidaknyamanan. Risk averter, orang yang enggan terhadap resiko, karna resko adalah sesuatu yang tidak baik, yang merugikan dan tidak memuaskan.
Untuk menggambarkan hubungan kombinasi antara resiko dan hasil yang diharapkan maka digunakan kurva indeferen untuk mengetahui tingkat kepuasan yang sama.
Pada gambar diatas sumbu tegak mengambarkan EPV dan sumbu datar menggambarkan resiko. Pada kombinasi A, EPV sebesar E, dan resiko sebesar SDi. Diantara I, yang paling baik adalah I1 karena untuk memperoleh E maka resiko yang dihadapi adalah yang paling kecil yaitu SDi.
Risk preference
Seseorang yang tergolong risk preference menganggap bahwa resiko merupakan utility (kepuasan). Hal ini berbanding terbalik dengan risk averter yang menganggap bahwa resiko adalah disutilities. Oleh kerena itu, kemiringan kurva indeferen yang dihadapi mempunyai slope negative.
Pada gambar tersebut bahwa risk preference bersedia mengorbankan EPV keuntungan untuk resiko yang tinggi.
Risk neutrality
Risk neutrality adalah seseorang yang merasa sama saja atau tidak merasa berbeda terhadap resiko, baik resiko merugikan maupun menguntungkan tanpa memeperhatikannya, sehingga kurva indeferenya adalah horizontal.
Penyesuaian Resiko Dalam Pengambilan Keputusan
Ada beberapa metode dalam membandingkan keptusan alternative yaitu sebagai berikut:
Kriteria maksimum
Kriteria ini digunakan untuk memilih alternative yang mengandung hasil maksimum. Kriteria ini juga mendasar pada hasil yang maksimum yang paling jekek, dengan kata lain Kriteria ini mencari nilai yang paling besar dari nilai yang paling kecil.
Kriteria koefisien variasi
Arti dari koefesien variasi adalah rasio standar deviasi dengan EPV. Rasio koefesien variasi distribusi probabilitas SD/ EPV menunjukan sejumlah rasio per rpiah hasil yang diharapkan. Pengambil keputusan yang tergolomg risk averter akan memilih keputusan alternative dengan koefisien alternative yang paling rendah.
Kriteria EPV dengan discount rate yang berbeda
Metode ini merupakan tingkat diskon yang tinggi untuk keputusan alternative yang tinggi. Opportunity discount rate diartikan sebagai tingkat bunga yang paling baik yang memberikan penerimaan dengan tingkat resiko yang sama.
Kriteria ekuivalen tertentu
Ekuivalen tertentu suatu keputusan alternative adalah sejumlah uang tertentu yang membuat manajer indeferen antara mengambil keputusan dan menerima sejumlah uang tertentu. Berdasarkan Kriteria ini maka manajer melakukan seleksi atas keputusan alternative yang memiliki ekuivalen tertentu yang paling tinggi.
Untuk itu hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam memilih Kriteria tersebut yaitu :
Frekuensi keputusan dengan tipe yang sama yang dihadapi
Besarnya taruhan
Perilaku pengambil keputusan
Biaya Mencari Informasi
Kekurangan informasi yang dihadapi perusahaan memnyebabkan keputusan alternative yang diambil menjadi tidak pasti. Kekurangan informasi dapat diantisipasi dengan mencari informasi dan hal tersenut memerlukan biaya serta waktu.
`Nilai informasi merupakan perbedaan apa yang diperoleh dari adanya keputusan yang didasarkan pada informasi disbanding dengan keputusan sebelumnnya. Apabila biaya yang diperlukan untuk mencari informasi lebih besar dari nilai informasi maka pembuat keputusan akan menggunakan dasar informasi yang telah ada dan tidak mencari tambahan informasi.
Evaluasi Tentang Keputusan Yang Telah Dibuat
Kualitas keputusan tergantung pada 5 faktor sebagai berikut:
Pengumpulan informasi yang tepat
Ketepatan dan kecocokan data
Apakah keputusan telah mempertimbangkan waktu
Analisis sensitivitas yang merupakan pengkajian dari suatu keputusan untuk memperoleh tingkat ketidaktepatannya.
Analisis Kredit
Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian kredit nasabah, terlebih dahulu harus terpenuhinya Prinsip 6 C’s Analysis, yaitu sebagai berikut:
1. Character
Character adalah keadaan watak dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.
Sebagai alat untuk memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:
a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah;
b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan usahanya;
c. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi Debitur);
d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana calon nasabah berada;
e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi;
f. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi berfoya-foya.
2. Capital
Capital adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin dalam memberikan kredit. Modal sendiri juga diperlukan bank sebagai alat kesungguhan dan tangung jawab nasabah dalam menjalankan usahanya karena ikut menanngung resiko terhadap gagalnya usaha. Dalam praktik, kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan self-financing, yang sebaiknya jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank.
3. Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana calon nasabah mampu untuk mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu dari usaha yang diperolehnya.
Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan berikut ini:
a. Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu.
b. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus
c. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank.
d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan.
e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon nasabah mengelola faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan , administrasi dan keuangan, industrial relation sampai pada kemampuan merebut pasar.
4. Collateral
Collateral adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya. Collateral tersebut harus dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban finansial nasabah kepada bank. Pada hakikatnya bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan tetapi juga collateral yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis.
5. Condition of Economy
Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik , sosial, ekonomi , budaya yeng mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya memengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan penelitian mengenai hal-hal antara lain:
a. Keadaan konjungtur
b. Peraturan-peraturan pemerintah
c. Situasi, politik dan perekonomian dunia
d. Keadaan lain yang memengaruhi pemasaran
6. Constraint
Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata.
Dari keenam prinsip diatas, yang paling perlu mendapatkan perhatian account officer adalah character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti. Dengan perkataan lain, permohonannya harus ditolak.
Langganan:
Postingan (Atom)
















